![]() |
| Markas NATO di Brussel dengan 32 bendera negara anggota. | NATO/Flickr (CC BY-NC-ND 4.0) |
Aliansi pertahanan NATO akan menggelar KTT di Ankara, Turki, pada 7–8 Juli 2026, dalam pertemuan yang dipandang krusial untuk menentukan arah dan kapasitas aliansi di tengah tekanan keamanan yang kian kompleks. Agenda utama mencakup pembagian beban pertahanan, penguatan militer Eropa, perhatian ke kawasan Arktik, serta posisi NATO terhadap perang di Ukraina.
Dorongan untuk menata ulang aliansi menguat setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan NATO “perlu dibentuk ulang”. Pernyataan itu disampaikan Rubio saat memberikan keterangan kepada Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Rabu waktu setempat, dengan penekanan pada perlunya negara-negara Eropa meningkatkan kemampuan militernya agar beban keamanan tidak terlalu bertumpu pada AS.
“Semakin kuat mitra-mitra NATO kita, semakin besar fleksibilitas yang akan dimiliki AS untuk mengamankan kepentingannya di seluruh dunia,” kata Rubio.
Ia menepis anggapan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump melemahkan aliansi, dan justru menempatkan dorongan peningkatan belanja pertahanan sekutu sebagai bagian dari penguatan NATO.
Isu pembagian beban tersebut berkaitan langsung dengan komitmen belanja pertahanan yang akan ditinjau kembali di Ankara. Pada KTT NATO di Den Haag tahun lalu, negara-negara sekutu sepakat mengejar target pengeluaran pertahanan sebesar 5% dari PDB pada 2035, naik tajam dari patokan sebelumnya 2%. Rubio mengkritik sejumlah negara Eropa kaya yang dinilainya masih memprioritaskan program sosial dibanding meningkatkan pengeluaran militer.
Selain belanja pertahanan, perhatian NATO terhadap kawasan Arktik menjadi salah satu fokus KTT. Isu ini mengemuka seiring kembali disorotnya kepentingan strategis Greenland oleh Trump. Dalam pertemuan World Economic Forum di Davos pekan lalu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengumumkan kesepakatan kerangka kerja dengan Trump terkait penguatan pertahanan Arktik oleh negara-negara sekutu.
“Kami akan mengadakan pertemuan di dalam NATO bersama komandan-komandan senior kami untuk menentukan apa yang diperlukan,” ujar Rutte di Davos. “Saya yakin kami dapat menyelesaikan ini dengan cukup cepat.”
Dorongan serupa datang dari Kanada. Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand, dalam Simposium Arktik Nordik–Kanada pada Rabu, menegaskan NATO tidak dapat mengabaikan kawasan tersebut.
“NATO adalah singkatan dari North Atlantic Treaty Organization, dan oleh karena itu, fokusnya juga harus mencakup wilayah Utara,” katanya. Anand sekaligus mengumumkan rencana pembukaan konsulat Kanada di Nuuk, ibu kota Greenland, pada bulan depan.
Sebagai tuan rumah KTT, Turki diperkirakan mendorong penguatan kerja sama NATO dengan negara-negara Teluk melalui Istanbul Cooperation Initiative. Arah tersebut tercermin dari dialog politik dan keamanan pertama antara Kuwait dan NATO di Brussels, Rabu, yang meninjau kerja sama melalui NATO-ICI Regional Centre di Kuwait City.
Agenda lain yang sensitif adalah sikap NATO terhadap Ukraina. Proses diplomasi terkait konflik Rusia–Ukraina masih berjalan lambat, sementara pemerintahan Trump kembali menegaskan bahwa keanggotaan NATO bagi Ukraina belum memungkinkan. Rutte sebelumnya mengakui adanya perbedaan pandangan di internal aliansi.
“Beberapa Sekutu, termasuk Hungaria dan Amerika Serikat serta beberapa negara lainnya, menentang atau sangat meragukan keanggotaan penuh NATO,” ujar Rutte pada Januari, merujuk pada perdebatan yang mengemuka setelah KTT NATO Washington 2024.
KTT Ankara akan menjadi forum bagi negara-negara anggota untuk menempatkan ulang prioritas NATO, di tengah upaya menjaga soliditas internal dan menyesuaikan peran aliansi dalam lanskap keamanan global yang terus berubah.

0Komentar