![]() |
| acara peresmian fasilitas manufaktur Sailun Group di Indonesia, yang berlokasi di Demak, Jawa Tengah. |
Pabrik ban milik produsen asal China, Sailun Group, resmi memulai produksi di Demak, Jawa Tengah. Fasilitas yang dibangun sejak 2024 dengan nilai investasi sekitar Rp4 triliun ini menempatkan Indonesia sebagai basis manufaktur Sailun di Asia Tenggara sekaligus salah satu investasi terbesar di sektor otomotif nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Pabrik tersebut merupakan fasilitas ketujuh Sailun secara global. Kehadirannya dibaca sebagai langkah lanjutan perusahaan dalam memperluas basis produksi regional untuk melayani pasar domestik dan ekspor.
Presiden Sailun Group, Xie Xiao Hong, menyampaikan bahwa keputusan berinvestasi di Indonesia didorong oleh besarnya pasar serta ketersediaan sumber daya lokal. Menurut dia, produksi dalam negeri ditempatkan sebagai bagian dari strategi memperkuat fondasi merek global melalui rantai pasok yang lebih dekat dengan pasar tujuan.
Fasilitas ini dioperasikan oleh PT Sailun Manufacturing Indonesia dan berlokasi di Kawasan Industri Jatengland Sayung, Demak. Lokasi tersebut dipilih karena kedekatannya dengan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, akses Jalur Pantura, serta ruas tol Semarang–Demak yang menunjang distribusi dan ekspor.
Dari sisi kapasitas, pabrik dirancang memproduksi hingga 3,6 juta ban kendaraan penumpang (Passenger Car Radial atau PCR) per tahun, 600 ribu ban truk dan bus (Truck Bus Radial atau TBR), 37 ribu ton ban alat berat dan tambang (Off-the-Road atau OTR), serta 1,5 juta ban dalam. Produksi mencakup sejumlah merek global Sailun, antara lain Sailun, Roadx, Blackhawk, dan Maxam.
PCR/TBR Director PT Sailun Tire Indonesia, Eko Supriyatin, mengatakan kapasitas dan distribusi tersebut sejalan dengan posisi Sailun di pasar global. Ia menyebutkan Sailun kini tercatat sebagai merek ban terbesar ke-10 dunia dan termasuk yang pertumbuhannya paling cepat. Di Indonesia, distribusi produk dibagi ke delapan wilayah, dari Aceh hingga Halmahera, untuk menyesuaikan karakter permintaan pasar.
Selain menyasar pasar domestik, pabrik Demak juga diposisikan sebagai pusat ekspor. Produk dari fasilitas ini ditujukan ke Amerika Utara, Eropa, serta negara-negara Asia Tenggara. Produksi lokal memungkinkan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri melalui pemanfaatan karet alam Indonesia sebagai salah satu bahan baku utama.
Dari sisi teknologi, Sailun menerapkan metode Eco-Point3 atau liquid phase mixing pada lini produksinya di Indonesia. Teknologi ini diklaim meningkatkan efisiensi bahan bakar kendaraan, menurunkan emisi karbon selama masa pakai ban, serta memperpanjang usia pakai melalui ketahanan aus yang lebih baik. Proses produksi juga didukung mesin otomatis berbasis kecerdasan buatan.
Investasi ini turut berdampak pada perekonomian lokal. Pemerintah daerah mencatat pabrik tersebut membuka ribuan lapangan kerja baru di kawasan Demak dan Semarang, sekaligus menjadi sarana alih teknologi melalui pelatihan teknis bagi tenaga kerja lokal.
Dari sisi pasar, fokus distribusi disesuaikan dengan karakter wilayah. Kawasan barat Indonesia, termasuk Sumatra, diarahkan untuk ban kendaraan penumpang, sementara Kalimantan dan wilayah timur seperti Halmahera menjadi pasar utama ban OTR yang digunakan industri pertambangan dan alat berat.
Sailun menyatakan produksi telah berjalan sesuai rencana awal untuk memenuhi permintaan pasar yang telah ada. Dengan beroperasinya pabrik di Demak, Indonesia kini menjadi bagian penting dalam rantai pasok global Sailun untuk pasar domestik maupun ekspor.

0Komentar