![]() |
| Pekerja menurunkan beras impor asal Vietnam milik Perum Bulog di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat 16 Desember 2022. | ANTARA FOTO/Galih Pradipta |
Indonesia menargetkan ekspor beras untuk pertama kalinya pada 2026, yang akan menjadi tonggak sejarah setelah merdeka. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan rencana ini pada Senin (5/1/2026), dalam sidang terbuka promosi doktor Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, di Universitas Indonesia, Depok.
Amran menjelaskan bahwa stok cadangan beras pemerintah saat ini mencapai 3,25 juta ton, angka tertinggi sejak Indonesia merdeka. Ia optimistis, dengan peningkatan produksi yang signifikan, Indonesia siap mengekspor beras pada 2026.
"Insya Allah, kita akan melakukan ekspor pada tahun 2026. Ini adalah momen bersejarah bagi Indonesia, pertama kali sejak kita merdeka," ujarnya.
Produksi beras Indonesia diperkirakan meningkat pesat. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, potensi produksi beras pada periode Desember 2025 hingga Februari 2026 mencapai 6,23 juta ton, naik 32,51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total produksi nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 34,71 juta ton, meningkat 13,36% dibandingkan tahun sebelumnya.
BPS juga mencatatkan stok beras Indonesia pada awal 2026 mencapai 12,529 juta ton, termasuk cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog sebanyak 3,248 juta ton.
Stok ini mengalami lonjakan signifikan, yakni 203,05% lebih tinggi dibandingkan stok awal 2024 yang hanya 4,134 juta ton. Dengan stok dan produksi yang memadai, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan Indonesia tidak akan membutuhkan impor beras sepanjang 2026.
Selain itu, Indonesia telah menandatangani kesepakatan ekspor beras dengan Malaysia sebanyak 24.000 ton per tahun, atau sekitar 2.000 ton per bulan. Ekspor ini akan dilakukan melalui skema bisnis ke bisnis, dengan beras yang dikirim terutama dari Kalimantan Barat, meskipun ada kemungkinan pengiriman dari wilayah lain.
Pemerintah juga mengincar negara-negara ASEAN lain sebagai tujuan ekspor, namun tetap memastikan pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.
Bulog juga ditugaskan untuk menyerap 4 juta ton beras sepanjang 2026 guna memperkuat cadangan dan mendukung petani. Rizal menambahkan, Bulog telah mempersiapkan gudang dengan kapasitas 1,5 juta ton, dan saat ini tengah menambah 500.000 ton, termasuk dengan memanfaatkan fasilitas TNI dan Polri jika diperlukan.

0Komentar