![]() |
| Pekerja sedang menata karung-karung beras di gudang Biro Logistik Indonesia (BULOG) di Lambaro, Aceh, pada 29 Desember 2025. | CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP |
Perum Bulog menargetkan penyerapan empat juta ton beras dan satu juta ton jagung pada 2026. Langkah ini bertujuan menjaga kestabilan pasokan pangan nasional serta mencegah lonjakan harga pangan. Selain itu, Bulog juga berkomitmen untuk menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sepanjang tahun tanpa jeda, guna mendukung kebijakan pangan nasional.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan hal ini dalam konferensi pers bertajuk "Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026" yang digelar di Jakarta pada Jumat (2/1). Pada 2025, Bulog telah merealisasikan penyerapan 3,19 juta ton beras, dan pada 2026, diproyeksikan akan meningkat menjadi empat juta ton.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebutkan bahwa target minimal penyerapan beras adalah tiga juta ton. Meski demikian, pihaknya berharap angka tersebut dapat terlampaui.
"Target minimal kita adalah tiga juta ton, namun jika memungkinkan, kita harap bisa mencapai empat juta ton, dan petani harus merasa aman," ujar Zulkifli dalam rapat koordinasi terbatas.
Penyaluran beras SPHP pada 2026 direncanakan berlangsung sepanjang tahun. Berbeda dengan 2025 yang hanya berlangsung selama delapan bulan, penyaluran SPHP tahun depan ditargetkan mencapai volume 1,5 juta ton.
Pada puncak musim panen, khususnya di bulan Maret, April, dan Agustus, Bulog akan menyesuaikan volume pasokan di daerah sentra produksi seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat, guna mencegah penurunan harga gabah petani.
"Pada puncak musim panen, penyaluran SPHP di daerah sentra produksi akan dikurangi volumenya, namun tetap dilakukan agar pasokan tidak berlebihan di pasaran," jelas Rizal.
Untuk mendukung peningkatan serapan, Bulog juga merencanakan pembangunan 100 infrastruktur pascapanen, termasuk gudang baru, rice milling unit (RMU), dan fasilitas pendukung lainnya. Nilai investasi yang diperlukan untuk proyek ini diperkirakan mencapai Rp5 triliun, dengan harapan pendanaan berasal dari APBN untuk menghindari beban bunga pinjaman perbankan.
Gerakan Pangan Murah (GPM), yang menjadi instrumen utama dalam stabilisasi harga pangan, juga akan diperkuat pada 2026. Pada tahun lalu, Bulog berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) setelah menggelar GPM serentak di 4.337 titik di seluruh Indonesia.
"Jika dulu GPM tidak semasif sekarang, saat ini Gerakan Pangan Murah sangat luar biasa," kata Rizal.
Selain itu, Bulog menargetkan penyaluran bantuan pangan sekitar 720 ribu ton selama empat bulan kepada 18 juta penerima manfaat pada 2026.
Dengan target ambisius ini, Bulog berupaya mengatasi tantangan ketahanan pangan di Indonesia, mengurangi volatilitas harga pangan, dan memastikan ketersediaan pangan yang cukup untuk seluruh lapisan masyarakat.

0Komentar