![]() |
| Korona matahari dilihat oleh Proba-3, misi yang dipimpin Badan Antariksa Eropa. Algoritma ESA/Proba-3/ASPIICS/WOW, CC BY-NC-SA |
Sebuah konsorsium ilmuwan internasional mengajukan proposal misi wahana antariksa untuk menciptakan gerhana Matahari buatan di luar angkasa, dengan tujuan mempelajari lapisan terdalam atmosfer Matahari yang menjadi sumber utama cuaca antariksa ekstrem. Proposal bernama Moon-Enabled Sun Occultation Mission (Mesom) itu diserahkan kepada Badan Antariksa Eropa (ESA) pada Mei 2025 dan kini dipertimbangkan sebagai kandidat misi masa depan.
Mesom dirancang sebagai satelit mini yang secara periodik akan memposisikan diri di dalam bayang-bayang Bulan, sekitar sekali setiap 29,6 hari. Dengan memanfaatkan Bulan sebagai penghalang alami, wahana ini akan menciptakan kondisi gerhana Matahari total hingga 48 menit—durasi yang jauh melampaui gerhana yang dapat diamati dari permukaan Bumi.
Pengamatan tersebut difokuskan pada korona Matahari, wilayah tempat bermulanya berbagai fenomena cuaca antariksa yang berpotensi mengganggu sistem teknologi di Bumi. Secara teknis, wahana ini akan mengamati korona hingga jarak 1,02 radius Matahari, atau sekitar 710.000 kilometer dari permukaan Matahari.
Pengajuan Mesom datang pada momentum yang dinilai krusial seiring meningkatnya intensitas aktivitas Matahari. Pada 18–19 Januari lalu, Matahari melepaskan flare kelas X1.9 yang disertai lontaran massa korona dan memicu badai radiasi Matahari terparah dalam lebih dari dua dekade.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mencatat peristiwa tersebut mencapai level S4 atau “parah” dalam skala cuaca antariksa, setara dengan badai besar terakhir yang terjadi pada Oktober 2003.
Dampaknya meluas, dengan aurora terlihat hingga lintang rendah—dari California utara hingga Alabama—sementara operator satelit dan penerbangan sipil meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan navigasi dan komunikasi.
Dalam konteks itu, konsorsium Mesom menilai masih terdapat celah signifikan dalam pemahaman ilmiah mengenai bagaimana peristiwa cuaca antariksa ekstrem bermula dan berkembang. Konsorsium ini dipimpin Mullard Space Science Laboratory, University College London (UCL), bersama mitra dari University of Surrey dan Aberystwyth University, serta kolaborator dari Spanyol, Amerika Serikat, dan Australia.
Peneliti dari Surrey Space Centre, Dr. Nicola Baresi, menyampaikan bahwa Mesom dirancang untuk memanfaatkan konfigurasi unik sistem Matahari–Bumi–Bulan. “Mesom memanfaatkan dinamika sistem tersebut untuk mereproduksi kondisi gerhana Matahari total di luar angkasa dengan menggunakan Bulan sebagai okulator alami,” ujarnya dalam keterangan tim peneliti.
Kemampuan observasi Mesom diproyeksikan melampaui misi sejenis yang sudah ada. Jarak pengamatan hingga 1,02 radius Matahari tersebut sekitar 56.000 kilometer lebih dekat dibandingkan kemampuan misi Proba-3 milik ESA, yang saat ini menjadi referensi utama pengamatan gerhana buatan di luar angkasa.
Proba-3, yang diluncurkan pada Desember 2024, sebelumnya merekam gerhana buatan berdurasi lima jam pada September 2025 dan memperlihatkan tiga prominens Matahari yang meletus secara berurutan. Namun, menurut ESA, misi tersebut belum mampu mencitrakan lapisan terdalam atmosfer Matahari yang diyakini menjadi sumber utama badai radiasi berbahaya.
Keterbatasan itu dinilai relevan mengingat dampak nyata cuaca antariksa terhadap infrastruktur modern. Lontaran massa korona pada 1989 menyebabkan pemadaman listrik selama sembilan jam di Quebec, Kanada, hanya sekitar 90 detik setelah menghantam magnetosfer Bumi.
Sementara itu, badai Matahari pada Mei 2024 dilaporkan memicu kesalahan sistem GPS hingga 230 kaki dan merugikan sektor pertanian Amerika Serikat sekitar US$500 juta akibat gangguan penanaman presisi.
Jika terpilih sebagai bagian dari program misi kelas-F ESA, Mesom berpeluang diluncurkan pada rentang 2026–2028. Satelit ini akan membawa sejumlah instrumen, termasuk pencitra korona resolusi tinggi, spektrometer massa korona, dan spectropolarimeter untuk mengukur medan magnet Matahari.
Selama misi yang dirancang berlangsung dua tahun, Mesom ditargetkan mengumpulkan sedikitnya 400 menit data pengamatan korona beresolusi tinggi. Menurut perhitungan tim peneliti, jumlah data tersebut setara dengan pengamatan gerhana dari Bumi selama lebih dari 80 tahun.
Proposal Mesom saat ini tengah dievaluasi oleh ESA, dengan keputusan awal dijadwalkan sebelum akhir tahun 2026.

0Komentar