![]() |
| kapal tanker minyak Tanzanite, milik perusahaan pelayaran Navig8. | Paul Harrison/Wikimedia Commons (CC BY-SA4.0) |
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi blokade total terhadap impor minyak ke Kuba sebagai bagian dari strategi baru untuk menekan perubahan rezim di negara Karibia tersebut. Wacana itu dibahas di internal pemerintahan di tengah terhentinya pasokan minyak dari Venezuela dan meningkatnya tekanan geopolitik di kawasan.
Pembahasan tersebut melibatkan sejumlah pejabat senior yang dikenal bersikap keras terhadap pemerintah Kuba, dengan dukungan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Sejumlah sumber menyebutkan, blokade energi ditempatkan sebagai instrumen utama untuk memperlemah pemerintahan Havana dari sisi ekonomi.
Menurut laporan Politico pada Jumat (23/1), pendekatan ini dipandang strategis dalam konteks krisis energi Kuba yang kian akut. Salah seorang sumber yang mengetahui pembahasan itu menyampaikan pandangan internal pemerintahan AS secara lugas.
“Energi adalah cengkeraman untuk membunuh rezim,” kata salah seorang sumber kepada Politico.
Namun, pembahasan di internal pemerintahan Trump tidak sepenuhnya bulat. Sejumlah pejabat memperingatkan bahwa langkah ekstrem tersebut berpotensi memicu krisis kemanusiaan, mengingat ekonomi Kuba sudah tertekan akibat hilangnya pasokan minyak dari Venezuela.
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan khusus AS pada awal Januari disebut menjadi titik balik yang secara efektif menghentikan aliran minyak Caracas ke Havana. Dampak langsungnya dirasakan Kuba, yang selama bertahun-tahun bergantung pada pasokan energi dari sekutu regionalnya itu.
Dalam konteks tersebut, The Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintahan Trump juga aktif menjajaki kontak di dalam pemerintahan Kuba. Kontak tersebut dinilai berpotensi membuka jalur negosiasi untuk mengakhiri kekuasaan Komunis sebelum akhir 2026.
Di tengah tekanan itu, Meksiko muncul sebagai pemasok minyak utama bagi Kuba. Namun, pemerintah Meksiko kini meninjau ulang kebijakan pengiriman minyaknya di tengah kekhawatiran akan kemungkinan pembalasan dari Washington, terutama di tengah hubungan bilateral yang sensitif terkait isu kartel narkoba dan ancaman operasi militer AS di wilayah Meksiko.
Secara terbuka, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menegaskan bahwa pengiriman minyak ke Kuba dilakukan atas dasar kemanusiaan.
“Jika Meksiko dapat membantu memperbaiki kondisi Kuba, kami akan selalu ada. Ini adalah hubungan dengan rakyat Kuba dalam kondisi yang sangat sulit,” ujar Sheinbaum.
Meski demikian, sumber-sumber senior pemerintah Meksiko menyebutkan bahwa kebijakan tersebut kini tengah dievaluasi secara internal. Kekhawatiran meningkat bahwa kelanjutan pengiriman minyak dapat memperburuk hubungan dengan Trump, yang belakangan mengeluarkan pernyataan keras terhadap Meksiko.
Data perusahaan energi negara Pemex menunjukkan bahwa antara Januari hingga September tahun lalu, Meksiko mengekspor sekitar 17.200 barel minyak mentah per hari serta 2.000 barel produk olahan ke Kuba. Angka tersebut menempatkan Meksiko sebagai pemasok utama setelah pasokan dari Venezuela terhenti.
Dari Havana, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel merespons keras ancaman blokade tersebut dan menegaskan posisi pemerintahannya.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menolak keras ancaman Trump. “Kuba adalah negara bebas, mandiri, dan berdaulat. Tidak ada yang bisa mendikte tindakan kami,” tegasnya. Díaz-Canel menegaskan Kuba siap “membela tanah air hingga tetes darah terakhir”.
Sementara itu, tekanan di lapangan terhadap warga Kuba kian berat. Pemadaman listrik semakin sering terjadi seiring kelangkaan bahan bakar. Di Havana, sejumlah warga dilaporkan melakukan protes diam-diam dengan memukul panci pada malam hari, sebuah bentuk ekspresi kekecewaan yang meluas di tengah krisis energi yang berkepanjangan.

0Komentar