![]() |
| Pimpinan dan anggota DPR RI bersama Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Thomas Djiwandono usai Rapat Paripurna DPR RI yang menyetujui pengangkatannya untuk periode 2026–2031, Selasa (27/1/2026). |
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 1% ke level 8.873 pada awal perdagangan Selasa (27/1/2026) di Bursa Efek Indonesia, dari penutupan sebelumnya 8.975, setelah DPR RI mengesahkan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Pelemahan berlangsung di tengah kehati-hatian pelaku pasar yang juga mencermati agenda rapat Federal Open Market Committee (FOMC) di Amerika Serikat.
Data perdagangan menunjukkan 440 saham melemah pada awal sesi, dengan nilai transaksi mencapai Rp3,74 triliun dari 486.600 kali transaksi. Tekanan terdalam datang dari sektor industri yang turun 3,45%, diikuti bahan baku melemah 2,10% dan properti terkoreksi 1,26%.
Kekhawatiran independensi BI
Pengesahan Thomas Djiwandono, yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto, menjadi perhatian sebagian pelaku pasar terkait independensi bank sentral. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai posisi Thomas di BI “dikhawatirkan bisa mengikis independensi bank sentral Indonesia”.
Thomas ditetapkan Komisi XI DPR RI menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026. Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyatakan Thomas terpilih karena dinilai dapat diterima lintas partai serta mampu menjelaskan sinergi kebijakan moneter dan fiskal.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Thomas menegaskan komitmennya menjaga independensi bank sentral.
“Saya ingin sampaikan sekali lagi komitmen saya untuk menjaga independensi bank sentral,” ujarnya usai rapat paripurna.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan langkah BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar telah menunjukkan perbaikan dan menegaskan kondisi itu bukan semata karena figur tertentu di BI. Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan menyebut penerimaan pasar terhadap Thomas akan ditentukan oleh kinerja profesional serta kemampuannya menjaga stabilitas moneter secara independen.
Sentimen global turut menekan
Di saat yang sama, pelaku pasar menahan posisi menjelang hasil rapat FOMC yang dimulai pada hari yang sama. Berdasarkan ekspektasi pasar, probabilitas suku bunga acuan AS bertahan di kisaran 3,50–3,75% mencapai 97,2%.
Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada menilai tekanan IHSG lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal yang belum sepenuhnya kondusif. Ia menyebut investor cenderung menunggu kepastian arah kebijakan moneter global sebelum meningkatkan eksposur risiko.
Pergerakan pasar pada awal sesi menunjukkan respons terhadap dinamika domestik di otoritas moneter serta agenda kebijakan global, dengan aktivitas transaksi tetap tinggi.

0Komentar