![]() |
| operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) setelah terjadinya tanah longsor dahsyat di desa Pasirlangu, Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia, pada Januari 2026. | AFP |
Operasi pencarian dan penyelamatan korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, memasuki hari keenam pada Kamis (29/1/2026). Tim SAR gabungan masih berupaya menemukan 27 korban yang dilaporkan hilang di tengah kondisi cuaca ekstrem berupa hujan berintensitas tinggi, kabut tebal, serta ancaman longsor susulan di area pencarian.
Hingga Rabu (28/1/2026) pukul 20.00 WIB, sebanyak 53 kantong jenazah telah dievakuasi dari lokasi bencana. Dari jumlah tersebut, 37 jenazah telah teridentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat, sementara 16 lainnya masih dalam proses identifikasi. Data tersebut tercantum dalam laporan resmi tim SAR kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Y. Bramantyo menyatakan bahwa faktor alam masih menjadi kendala utama proses evakuasi. Perubahan cuaca yang cepat dan kontur tanah yang labil membatasi pergerakan personel maupun pengoperasian alat berat di lapangan.
“Permasalahannya di kondisi cuaca, alam sehingga kita tidak bisa maksimal,” ujarnya di lokasi pencarian, Kamis pagi.
Pada hari keenam operasi, pencarian difokuskan di sektor A1, A2, dan B2. Sebanyak 17 unit alat berat dikerahkan untuk membuka timbunan material longsor dan memperluas area evakuasi. Operasi diawali dengan apel kesiapan pukul 07.00 WIB, yang membagi sekitar 2.000 personel gabungan—terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan unsur pemerintah daerah—ke lima sektor pencarian.
Selain alat berat, tim SAR menurunkan anjing pelacak K-9 untuk mendeteksi keberadaan korban di titik-titik berisiko tinggi. Metode ini digunakan untuk mempercepat penentuan lokasi potensial korban sebelum dilakukan penggalian manual maupun mekanis, terutama di area dengan ketebalan material longsoran yang tidak seragam.
Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian Permana menyampaikan bahwa pada hari sebelumnya operasi sempat dihentikan sementara di sejumlah sektor akibat memburuknya kondisi cuaca. Penghentian dilakukan berdasarkan hasil pemantauan stabilitas lereng guna menghindari risiko tambahan bagi personel.
“Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, khususnya terkait stabilitas longsor, pada pagi hingga menjelang siang hari di sektor A2 dan sektor A3 sempat dihentikan sementara,” ujarnya.
Dukungan pemantauan udara diberikan TNI Angkatan Udara dengan mengerahkan drone Avia Hybrid milik Pusat Geospasial TNI AU. Drone tersebut digunakan untuk memetakan perubahan kontur tanah, mengidentifikasi jalur aman pergerakan personel, serta memantau potensi longsor susulan. Kepala Pusgeosau Marsekal Muda TNI Ferdinand Roring menyatakan, teknologi udara ditempatkan sebagai bagian mitigasi risiko di area yang sulit dijangkau.
“Penggunaan drone memungkinkan pemantauan dilakukan secara cepat, akurat, dan aman, terutama di lokasi yang berisiko tinggi bagi personel di lapangan,” katanya.
Kontribusi juga datang dari TNI Angkatan Laut yang menerjunkan 200 personel Marinir untuk memperkuat proses evakuasi. Dari 23 prajurit Marinir yang sebelumnya dilaporkan menjadi korban longsor, lima orang telah ditemukan, sementara 18 lainnya masih dalam pencarian. Informasi ini disampaikan oleh komando lapangan TNI AL yang terlibat langsung dalam operasi SAR.
Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi X DPR MY Esti Wijayati mendorong pemanfaatan teknologi pendeteksi bawah tanah untuk mempercepat pencarian. Ia merujuk pada Ground Penetrating Radar (GPR) milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang disebut mampu mendeteksi objek hingga kedalaman 100 meter sebagai opsi pendukung operasi.
“Saya kira alat ini bisa dimanfaatkan untuk membantu evakuasi korban bencana longsor di Cisarua,” ujarnya kepada wartawan.
Bencana longsor terjadi pada Sabtu dini hari (24/1/2026) setelah hujan lebat mengguyur kawasan tersebut selama beberapa hari berturut-turut. Longsoran material tanah dan bebatuan melanda tiga kampung di Desa Pasirlangu dan menimbun sedikitnya 48 rumah warga. Sejumlah fasilitas umum dan akses jalan turut terdampak, sehingga menyulitkan mobilisasi awal tim penyelamat.
BNPB menyebutkan operasi pencarian direncanakan berlangsung hingga hari ketujuh, dengan penyesuaian taktis berdasarkan evaluasi harian kondisi cuaca dan stabilitas lereng. Hingga kini, koordinasi lintas instansi terus dilakukan untuk memastikan keselamatan personel dan efektivitas evakuasi, seiring upaya menemukan seluruh korban yang masih dilaporkan hilang.

0Komentar