Seorang pria berjalan sementara bendera Denmark berkibar di samping Patung Hans Egede di Nuuk, Greenland, pada 9 Maret 2025. | Marko Djurica/Reuters


Pemerintah Greenland pada Senin mengumumkan akan mengintensifkan upaya memastikan pertahanan wilayah Arktik tetap berada dalam kerangka kerja NATO, di tengah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali menegaskan ambisi AS untuk mengakuisisi Greenland dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.

Pernyataan tersebut disampaikan pemerintah koalisi Greenland melalui situs resmi Naalakkersuisut, bertepatan dengan komentar Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One yang menyatakan bahwa “dengan satu atau lain cara, kami akan menguasai Greenland”.

Dalam pernyataannya, pemerintah Greenland menegaskan bahwa isu pertahanan pulau tersebut merupakan kepentingan kolektif aliansi Atlantik Utara.

“Semua negara anggota NATO, termasuk Amerika Serikat, memiliki kepentingan bersama dalam pertahanan Greenland,” kata pemerintah koalisi Greenland dalam pernyataan yang dipublikasikan di situs web Naalakkersuisut.

Langkah itu ditempatkan Greenland di tengah dorongan negara-negara Eropa untuk memperkuat keamanan di Kawasan Utara Tinggi melalui NATO. Upaya tersebut dimaksudkan untuk merespons kekhawatiran Washington, sekaligus menjaga kedaulatan Greenland sebagai wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan aliansi tengah menyiapkan langkah lanjutan yang bersifat konkret untuk memperkuat pertahanan Arktik. Pernyataan itu disampaikannya saat berkunjung ke Kroasia.

“Semua sekutu sepakat tentang pentingnya Arktik dan keamanan Arktik, karena kami tahu bahwa dengan terbukanya jalur laut, ada risiko Rusia dan Tiongkok akan lebih aktif,” kata Rutte.

Sejalan dengan itu, Menteri Pertahanan Belgia Theo Francken mengusulkan pembentukan operasi NATO baru di Arktik yang mengikuti model misi Baltic Sentry dan Eastern Sentry. Ia menyebut inisiatif tersebut sebagai Arctic Sentry.

“Kita harus berkolaborasi, bekerja sama, dan menunjukkan kekuatan serta persatuan,” kata Francken kepada Reuters.

Inggris dan Jerman juga dilaporkan tengah membahas rencana kehadiran militer di Greenland, menurut Bloomberg. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah melibatkan mitra-mitra NATO untuk memperluas kehadiran militer di Arktik. 

Inggris dijadwalkan mengirim 1.500 personel Royal Marines ke latihan NATO Cold Response di Norwegia, Finlandia, dan Swedia pada Maret mendatang.

Trump sebelumnya berulang kali berargumen bahwa AS perlu memiliki Greenland untuk mencegah Rusia atau China menduduki wilayah yang kaya mineral dan memiliki posisi strategis tersebut. Ia bahkan meremehkan kemampuan pertahanan Greenland saat ini.

“Pada dasarnya, pertahanan mereka hanya dua kereta luncur anjing,” kata Trump.

Pernyataan Trump memicu respons keras dari Eropa. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan bahwa pengambilalihan militer AS atas Greenland akan mengakhiri NATO. Komisioner Pertahanan Uni Eropa Andrius Kubilius juga menyampaikan peringatan serupa, menyebut langkah tersebut sebagai “akhir dari NATO”.

Penolakan juga datang dari dalam negeri Greenland. Pada Jumat lalu, kelima partai politik di parlemen Greenland mengeluarkan pernyataan bersama yang jarang terjadi untuk menentang ancaman Trump.

“Kami tidak akan menjadi orang Amerika, kami tidak akan menjadi orang Denmark, kami adalah orang Greenland,” tegas para pemimpin partai tersebut.

Pernyataan bersama itu sekaligus mengecam pernyataan-pernyataan terbaru dari AS sebagai “sangat tidak menghormati”.

Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan Uni Eropa akan meningkatkan pendanaan untuk Greenland menjadi sekitar €530 juta dalam anggaran bersama mendatang. Ia menekankan pentingnya prinsip persetujuan warga Greenland dalam setiap keputusan terkait masa depan wilayah tersebut.

“Greenland adalah milik penduduknya,” katanya. “Tidak ada yang diputuskan tentang mereka tanpa persetujuan mereka.”