Sebuah kapal kontainer membongkar kargo di terminal pelabuhan di Long Beach, California, Amerika Serikat, 10 Mei 2019. | Mark Larston/AFP

Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mendesak Uni Eropa mengikuti langkah Amerika Serikat dan Meksiko dengan mengenakan tarif yang lebih tinggi terhadap China, di tengah meningkatnya tekanan terhadap Beijing terkait praktik perdagangan dan potensi penggunaan pasokan mineral kritis sebagai alat tawar.

Seruan tersebut disampaikan Navarro dari Washington dalam wawancara di Bloomberg’s The Mishal Husain Show yang dipublikasikan pada 8 Januari. Ia menilai Uni Eropa perlu mengambil sikap lebih tegas karena China, menurutnya, telah “memamerkan kekuatan” melalui ancaman pembatasan ekspor elemen tanah jarang.

Material itu berperan penting bagi industri elektronik, kendaraan listrik, hingga sistem pertahanan. Ancaman pembatasan dinilai berpotensi menjadi alat tekanan terhadap mitra dagang utama, termasuk Eropa, India, dan Amerika Serikat.

Dalam wawancara tersebut, Navarro mengatakan China kini secara terbuka menunjukkan kemampuannya mengendalikan pasokan mineral strategis. Ia menyebut sinyal tersebut muncul di tengah dorongan AS dan sejumlah mitranya untuk mengetatkan tarif terhadap produk China.

Desakan dari Gedung Putih datang ketika Uni Eropa menghadapi lonjakan impor barang asal China. Data perdagangan menunjukkan, antara November 2024 hingga November 2025, arus barang China ke Uni Eropa naik hampir 15%. Sejumlah negara anggota mencatat kenaikan lebih tajam, termasuk Italia dengan lonjakan impor sekitar 25%.

Pada 2024, defisit perdagangan Uni Eropa dengan China tercatat melampaui 300 miliar euro, menurut data resmi blok tersebut. Kondisi ini menjadi latar tekanan bagi Brussel untuk meninjau ulang kebijakan perdagangannya terhadap Beijing.

Meksiko dipandang Navarro sebagai contoh pendekatan yang diharapkan. Pada 2025, Senat Meksiko menyetujui pengenaan tarif terhadap lebih dari 1.400 produk asal China, mulai dari mobil, baja, plastik, hingga tekstil. Kebijakan itu diambil untuk melindungi industri domestik dan menekan praktik dagang yang dinilai tidak seimbang.

Mengutip Reuters, Amerika Serikat sendiri telah menaikkan tarif secara agresif. Rata-rata tarif impor terhadap produk China mencapai 57,6% pada September 2025, lebih dari dua kali lipat dibandingkan awal tahun, berdasarkan perhitungan Peterson Institute for International Economics. Kenaikan tersebut mencerminkan arah kebijakan perdagangan yang semakin proteksionis di Washington.

Meski demikian, hubungan dagang AS–China sempat mereda pada Oktober 2025. Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mencapai kesepakatan trade truce yang menangguhkan sebagian langkah eskalasi selama satu tahun. Dalam kesepakatan itu, China menangguhkan kontrol ekspor elemen tanah jarang yang sebelumnya diperkenalkan pada April dan Oktober 2025, sementara AS memangkas tarif terkait isu fentanil dari 20% menjadi 10%.

Navarro juga menyinggung upaya AS mengurangi ketergantungan terhadap China di sektor mineral kritis. Ia memprediksi inovasi teknologi AS akan mampu mengikis dominasi Beijing dalam waktu relatif cepat, meskipun para analis industri menilai proses tersebut tidak sederhana.

China saat ini menguasai lebih dari 90% kapasitas global untuk pemisahan, pemurnian, dan produksi magnet permanen berbasis logam tanah jarang. Keunggulan tersebut dibangun selama lebih dari empat dekade melalui investasi besar dan kebijakan industri jangka panjang, sementara pembangunan fasilitas pemrosesan di negara lain dikenal padat modal dan memakan waktu bertahun-tahun.

Untuk mengatasi ketimpangan itu, AS telah menjajaki kerja sama dengan delapan negara sekutu guna memperkuat rantai pasokan critical minerals. Kemitraan tersebut mencakup Jepang, Korea Selatan, dan Australia, dengan fokus pada diversifikasi sumber serta peningkatan kapasitas pemrosesan di luar China.