Pekerja listrik memperbaiki saluran listrik tegangan tinggi yang hancur di Kherson, Ukraina, di mana jaringan listrik telah mengalami kerusakan akibat penembakan Rusia. | CSIS


Negara-negara sekutu Ukraina dalam format G7+ mengumumkan paket dukungan baru berskala besar untuk menopang sektor energi Ukraina yang rusak berat akibat serangan Rusia, dalam pertemuan koordinasi darurat pada Jumat (23/1/2026). Mengutip kantir berita Ukrinform, Bantuan mencakup lebih dari 6.000 unit peralatan energi skala besar serta komitmen dana ratusan juta dolar, saat Ukraina menghadapi musim dingin terberat sejak invasi penuh Rusia dimulai.

Pertemuan virtual tersebut dipimpin Perdana Menteri Ukraina Yulia Svyrydenko dan dihadiri negara-negara G7, kelompok Nordik dan Baltik, serta sejumlah mitra internasional lainnya. Forum ini digelar untuk merespons krisis akut pada sistem ketenagalistrikan Ukraina, yang terus tertekan akibat gelombang serangan terhadap infrastruktur energi sejak akhir 2025.

“Saya menyampaikan rasa terima kasih kepada mitra-mitra kami atas bantuan yang telah diberikan dan yang akan segera tiba di negara kami,” tulis Svyrydenko melalui Telegram usai pertemuan. Ia juga mengundang para peserta untuk mengunjungi Ukraina guna melihat langsung dampak serangan Rusia terhadap warga sipil.

Uni Eropa menjadi salah satu kontributor utama dengan mengalokasikan 447 unit generator senilai US$4,3 juta. Menurut Komisi Eropa, peralatan tersebut ditujukan untuk memulihkan pasokan listrik ke rumah sakit, tempat penampungan, dan layanan publik esensial yang terdampak pemadaman berkepanjangan.

Jerman mengumumkan paket dukungan senilai €60 juta yang mencakup 33 unit kogenerasi, 15 generator hibrida bergerak, 300 instalasi photovoltaic, 375 unit baterai, serta 31 unit boiler. Berlin menilai kombinasi peralatan ini krusial untuk menjaga stabilitas pasokan listrik dan pemanas di wilayah perkotaan maupun daerah terpencil.

Amerika Serikat berkomitmen menyalurkan lebih dari US$400 juta untuk proyek-proyek kemanusiaan yang ditujukan mendukung kebutuhan masyarakat Ukraina selama musim dingin. Inggris Raya menyatakan akan menyumbang hampir €23 juta ke Dana Dukungan Energi Ukraina, sementara Belanda menyamai angka tersebut dengan €23 juta tambahan untuk pembelian gas, perbaikan pembangkit listrik, dan penyediaan peralatan teknis.

Italia menyumbang €10 juta ke dana yang sama dan menganggarkan tambahan €50 juta untuk tahun 2026. Prancis akan mengirimkan lebih dari 100 generator dengan total kapasitas 13 megawatt. Jepang berjanji menyediakan 140 generator kecil dan menengah serta 60 transformator untuk memperkuat jaringan distribusi listrik.

Australia secara terpisah mengumumkan kontribusi sebesar A$10 juta, atau sekitar US$6,9 juta, ke Dana Dukungan Energi Ukraina. Dengan tambahan ini, total bantuan energi Australia kepada Ukraina sejak 2022 mencapai A$40 juta, menurut pernyataan pemerintah Canberra.

Paket dukungan tersebut diumumkan di tengah tekanan luar biasa terhadap infrastruktur energi Ukraina. Menteri Energi Denys Shmyhal mengatakan kepada para mitra bahwa sejak Oktober 2025, pasukan Rusia telah menargetkan 11 pembangkit listrik tenaga air dan 45 pembangkit listrik termal terbesar di Ukraina. Sepanjang 2025, tercatat 612 serangan terhadap fasilitas energi, menurut paparan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.

Presiden Volodymyr Zelenskyy sebelumnya menetapkan keadaan darurat energi setelah permintaan listrik nasional mencapai 18 gigawatt, sementara kapasitas pasokan hanya mampu menyediakan sekitar 11 gigawatt, berdasarkan laporan Euromaidan Press. Kesenjangan ini memicu pemadaman bergilir di sejumlah kota besar, termasuk Kyiv.

Serangan besar pada 9 Januari merusak apa yang disebut otoritas Ukraina sebagai “cincin energi” ibu kota, menyebabkan hampir 6.000 bangunan apartemen kehilangan pemanas ketika suhu turun hingga minus 15 derajat Celsius. Serangan lanjutan pada 20 Januari kembali menghantam fasilitas listrik di sembilan oblast, memutus pasokan panas ke ribuan bangunan di Kyiv dan wilayah sekitarnya.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyebut pola serangan tersebut sebagai strategi yang disengaja. “Rusia menjadikan musim dingin sebagai senjata melawan rakyat Ukraina,” kata Wong. “Serangan Rusia yang terus-menerus terhadap rumah-rumah dan infrastruktur penting menunjukkan bahwa mereka tidak serius untuk mengakhiri perang.”

Wakil Perdana Menteri Ukraina Oleksii Kuleba menekankan bahwa dampak krisis energi Ukraina melampaui batas nasional. “Dengan membantu Ukraina melewati musim dingin ini, mitra kami tidak hanya melindungi rakyat Ukraina tetapi juga berinvestasi dalam stabilitas dan keamanan seluruh Eropa,” ujarnya.

Menurut pejabat Ukraina dan mitra internasional, fokus bantuan saat ini diarahkan pada pemulihan cepat kapasitas pembangkitan dan distribusi listrik, serta penyediaan sumber energi cadangan untuk fasilitas vital. Upaya tersebut dipandang penting untuk mencegah gangguan lebih luas terhadap layanan kesehatan, air bersih, dan transportasi selama periode suhu ekstrem yang masih berlangsung.

Sumber: Ukrinform