![]() |
| CEO JPMorgan Jamie Dimon menilai perubahan kebijakan AS memengaruhi persepsi sekutu global, namun menegaskan komitmen militer tetap berjalan. |
CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon menyatakan Amerika Serikat kini dipersepsikan “kurang bisa diandalkan” di mata dunia di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Penilaian itu ia sampaikan dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Rabu (21/1/2026), sembari menolak anggapan bahwa tatanan global tengah runtuh.
Pernyataan tersebut disampaikan Dimon saat menanggapi pandangan Perdana Menteri Kanada Mark Carney yang menyebut dunia sedang mengalami “kehancuran tatanan”. Menurut Dimon, memang terjadi pergeseran relasi dan aliansi geopolitik, tetapi perubahan itu tidak identik dengan kolapsnya kepemimpinan Barat.
“Ini bukan kehancuran,” kata Dimon dalam perbincangan dengan pemimpin redaksi The Economist Zanny Minton Beddoes di Davos. “Kalau Anda tanya saya, ‘apakah Amerika menjadi tidak bisa diandalkan?’ Tidak. Hanya saja, tadinya Anda punya keandalan penuh, dan sekarang menjadi kurang bisa diandalkan.”
Penilaian Dimon muncul di tengah sorotan terhadap arah kebijakan luar negeri AS dan dampaknya terhadap hubungan dengan sekutu tradisional di Amerika Utara dan Eropa. Ia menempatkan persepsi keandalan sebagai faktor kunci yang memengaruhi langkah negara lain dalam merumuskan strategi diplomasi dan ekonomi.
Pergeseran arah sekutu tradisional
Dimon mencontohkan perubahan dinamika global melalui langkah-langkah diplomatik Kanada dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyinggung kunjungan PM Mark Carney ke negara-negara yang selama ini dipandang sebagai rival AS.
“Kita menyebabkan beberapa hal yang mungkin tidak baik untuk Amerika dalam jangka panjang. PM Kanada Carney pergi ke China, dan sekarang dia akan pergi ke India,” ujar Dimon.
Kunjungan Carney ke Beijing pada awal bulan ini menjadi lawatan pertama kepala pemerintahan Kanada ke China dalam delapan tahun terakhir. Selain itu, Carney juga dilaporkan menerima undangan untuk berkunjung ke New Delhi di tengah upaya Kanada dan India memulihkan hubungan bilateral yang sempat merenggang.
Beddoes kemudian mempertanyakan apakah status “kurang dapat diandalkan” berpotensi berkembang menjadi “tidak dapat diandalkan”. Dimon menepis kekhawatiran tersebut dengan menekankan keberlanjutan komitmen keamanan AS terhadap para sekutunya.
“Kami tetap menjadi sekutu militer bagi semua 40 negara. Ketika saya berbicara dengan militer kami, mereka siap untuk membela sekutu mereka di seluruh dunia. Anda tahu, Trump belum menghentikan semua itu,” katanya. “Jadi, saya pikir sudah waktunya bagi orang-orang untuk sedikit menarik napas. Itu tidak berarti saya menyukai semuanya.”
Pernyataan ini merujuk pada peran AS dalam berbagai aliansi pertahanan, termasuk NATO, yang selama ini menjadi pilar utama keamanan kolektif negara-negara Barat.
NATO, Ukraina, dan ilusi dunia aman
Meski mengakui adanya kegelisahan global, Dimon menekankan pentingnya menjaga persatuan Barat. Di hadapan peserta forum Davos, ia menyebut asumsi lama tentang stabilitas internasional terbukti keliru.
“Kami pikir dunia sudah aman — ternyata tidak aman,” ujarnya, dengan merujuk pada invasi Rusia ke Ukraina sebagai contoh rapuhnya tatanan keamanan global.
Dalam konteks tersebut, Dimon mendorong penguatan NATO dan peningkatan kapasitas pertahanan Eropa. Ia menyebut economic persuasion atau persuasi ekonomi sebagai salah satu instrumen untuk mendorong sekutu meningkatkan belanja dan kesiapan pertahanan. Menurutnya, kegagalan menjaga kekompakan Barat berpotensi membawa konsekuensi jangka panjang bagi posisi global negara-negara tersebut.
Beda sikap dengan Trump soal kredit konsumen
Di luar isu geopolitik, Dimon juga menyoroti perbedaan pandangannya dengan Presiden Trump terkait kebijakan ekonomi domestik. Ia secara terbuka menentang usulan pembatasan suku bunga kartu kredit maksimal 10%, yang menurutnya berisiko besar bagi akses pembiayaan masyarakat.
Dimon menyebut kebijakan tersebut sebagai “bencana ekonomi” yang dapat menghilangkan akses kredit bagi hingga 80% warga AS. Pernyataan itu sejalan dengan studi American Bankers Association yang dirilis Senin (19/1/2026), yang memperkirakan sekitar 74% hingga 85% rekening kartu kredit aktif berpotensi ditutup atau mengalami pengurangan signifikan jika batas suku bunga diterapkan, dengan dampak terhadap hingga 159 juta pemegang kartu.
Mengidentifikasi dirinya sebagai seorang globalist, Dimon merangkum posisinya terhadap arah kebijakan Trump. Ia menegaskan dukungannya terhadap NATO dan Eropa yang lebih kuat, mengakui bahwa sebagian kebijakan presiden bergerak sejalan dengan tujuan tersebut, sementara sebagian lainnya tidak. Ia juga menyatakan penolakannya terhadap tarif secara umum, meski membuka ruang penggunaannya dalam kondisi tertentu.

0Komentar