Pabrik Boeing Everett, fasilitas manufaktur pesawat terbesar di dunia berdasarkan volume. | Jetstar Airways/Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)


Boeing membukukan kinerja pesanan pesawat komersial tertinggi sepanjang 2025 dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun mengungguli Airbus, menandai titik balik bagi produsen pesawat asal Amerika Serikat tersebut setelah periode krisis panjang. Sepanjang tahun lalu, perusahaan berbasis di Arlington, Virginia, itu mencatat 1.175 pesanan kotor, melampaui lebih dari 1.000 pesanan kotor Airbus, berdasarkan pengumuman resmi Boeing pada Selasa (13/1/2026).

Setelah memperhitungkan pembatalan, total pesanan bersih Boeing mencapai 1.173 unit. Angka ini jauh di atas Airbus yang membukukan 889 pesanan bersih dan menjadi kemenangan pertama Boeing atas pesaing Eropa-nya sejak 2018, di tengah proses pemulihan operasional dan reputasi yang masih berada dalam pengawasan regulator penerbangan Amerika Serikat.

Kinerja pesanan tersebut diikuti lonjakan pengiriman tahunan. Sepanjang 2025, Boeing menyerahkan 600 pesawat kepada pelanggan, naik 72% dibandingkan 348 unit pada 2024. 

Capaian ini merupakan tingkat pengiriman tertinggi Boeing dalam tujuh tahun terakhir dan mencerminkan stabilisasi produksi setelah serangkaian gangguan, mulai dari dua kecelakaan fatal 737 Max, pandemi COVID-19, pemogokan pabrik, hingga insiden lepasnya panel pesawat di udara pada Januari 2024, sebagaiman dikutip dari Associated Press

Pengiriman Boeing sepanjang tahun lalu,  didominasi keluarga 737 dengan total 447 unit, atau rata-rata 37 pesawat per bulan, meningkat signifikan dari sekitar 22 unit per bulan pada tahun sebelumnya. Selain itu, Boeing mengirimkan 88 unit 787 Dreamliner, 35 pesawat 777, serta 30 unit 767.

Dalam memo internal perusahaan, Presiden sekaligus chief executive unit pesawat komersial Boeing, Stephanie Pope, menekankan perbaikan kinerja operasional sepanjang 2025.

“Tim kami melakukan pekerjaan luar biasa sepanjang tahun 2025 untuk meningkatkan ketepatan waktu pengiriman pesawat yang aman dan berkualitas kepada pelanggan kami guna mendukung rencana pertumbuhan dan modernisasi mereka,” ujar Pope.

Mengutip CNBC Internasional, Lonjakan pesanan Boeing juga dipengaruhi faktor eksternal. Sepanjang 2025, pemerintahan Presiden Donald Trump secara aktif memasukkan pembelian pesawat dalam agenda negosiasi perdagangan dan kunjungan diplomatik. 

Kesepakatan terbesar tercapai pada Mei lalu saat kunjungan Trump ke Qatar, ketika Qatar Airways menyatakan komitmen membeli hingga 210 pesawat Boeing, termasuk 130 Dreamliner dan pesawat 777X, dengan nilai transaksi sekitar US$96 miliar. Gedung Putih menyebutnya sebagai pesanan pesawat berbadan lebar terbesar yang pernah diterima Boeing.

Momentum tersebut berlanjut pada awal tahun ini. Delta Air Lines mengumumkan pemesanan 30 unit 787-10 Dreamliner dengan opsi tambahan 30 pesawat, dengan jadwal pengiriman mulai 2031.

Di sisi lain, Airbus tetap mempertahankan posisinya sebagai produsen pesawat terbesar di dunia dari sisi pengiriman untuk tahun ketujuh berturut-turut. Sepanjang 2025, Airbus menyerahkan 793 pesawat kepada 91 pelanggan, naik 4% dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus mencatat backlog pesanan tertinggi sepanjang sejarah sebanyak 8.754 pesawat pada akhir tahun.

Sementara itu, Boeing diproyeksikan mulai mencetak arus kas positif pada 2026 seiring CEO Kelly Ortberg melanjutkan agenda pemulihan perusahaan, termasuk peningkatan laju produksi di bawah pengawasan Federal Aviation Administration (FAA) yang masih berlangsung.