![]() |
| Credit: Xinhua/Xu Wei |
Afrika Selatan akan menjadi tuan rumah latihan angkatan laut multinasional Will for Peace 2026 pada 9–16 Januari 2026, yang untuk pertama kalinya mempertemukan negara-negara BRICS Plus dengan keterlibatan Iran. Latihan ini menyorot isu keselamatan pelayaran dan interoperabilitas angkatan laut di perairan Afrika Selatan, sekaligus memicu perhatian diplomatik di dalam dan luar negeri.
Latihan tersebut dipimpin oleh Tiongkok dan dikonfirmasi oleh South African National Defence Force (SANDF) melalui pernyataan resmi pada 29 Desember. SANDF tidak merinci daftar lengkap negara peserta. Namun, sejumlah laporan media internasional menyebut Rusia, Iran, Indonesia, dan Ethiopia diperkirakan ambil bagian dalam latihan bersama ini.
Keterlibatan Iran menjadi perhatian utama karena menandai pergeseran dari format latihan sebelumnya. Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Muda Shahram Irani menyatakan Teheran mengerahkan armada ke-103 dan ke-104, dengan armada ke-103 secara khusus ditugaskan mengikuti latihan BRICS di Afrika Selatan. Sebelumnya, latihan serupa bertajuk Exercise Mosi hanya melibatkan China, Afrika Selatan, dan Rusia pada 2019 dan 2023.
Di dalam negeri, langkah Pretoria menggelar latihan ini memicu kritik dari Democratic Alliance (DA), salah satu partai dalam pemerintahan koalisi. Partai oposisi tersebut menilai kehadiran Iran dan Rusia bertentangan dengan prinsip non-alignment yang selama ini diklaim Afrika Selatan.
Juru bicara pertahanan DA Chris Hattingh menyatakan, menjadi tuan rumah pasukan dari negara-negara yang tengah dikenai sanksi internasional tidak dapat disebut sebagai posisi netral.
Latihan ini juga berlangsung di tengah hubungan yang kurang mulus antara Afrika Selatan dan Amerika Serikat. Pada November 2025, Presiden Donald Trump menyatakan Afrika Selatan tidak akan diundang ke KTT G20 2026 di Miami.
Keputusan itu disertai penghentian bantuan Amerika Serikat serta penerapan tarif impor sebesar 30% terhadap produk Afrika Selatan, menyusul tuduhan pelanggaran hak asasi manusia terhadap petani kulit putih yang dibantah pemerintah Pretoria.
Sejumlah analis mempertanyakan penggunaan label BRICS dalam latihan ini. Darren Olivier dari African Defence Review menilai tidak terdapat mekanisme formal di dalam BRICS untuk merancang dan melaksanakan latihan militer bersama. Ia juga menyoroti absennya India dan Brasil, dua anggota utama BRICS, yang tidak pernah terlibat dalam latihan-latihan sebelumnya.
Kementerian pertahanan Afrika Selatan menjelaskan bahwa tema latihan berfokus pada “tindakan bersama untuk memastikan keamanan pelayaran dan kegiatan ekonomi maritim.” Latihan ini semula dijadwalkan berlangsung pada November 2025, namun ditunda guna menghindari benturan agenda dengan KTT G20 yang digelar di Johannesburg pada periode tersebut.

0Komentar