Kantor Pusat Bank of Japan (Bank Sentral Jepang) yang berlokasi di distrik Nihonbashi, Tokyo. | ykanazawa1999/Flickr (CC BY-NC-SA 2.0)


Mata uang Asia menguat secara luas pada awal pekan seiring pelemahan dolar AS yang berlanjut, dipicu spekulasi keterlibatan AS dalam potensi intervensi nilai tukar Jepang. Pergerakan ini terjadi pada perdagangan Senin (26/1), ketika pelaku pasar global mencermati sinyal tidak biasa dari otoritas moneter AS dan Jepang yang memicu aksi jual lanjutan terhadap dolar serta mendorong penguatan mata uang regional, mulai dari yen hingga dolar Singapura dan ringgit Malaysia.

Indeks Dolar AS turun di bawah level 97 untuk pertama kalinya sejak September dan diperdagangkan di kisaran 97,16. Pelemahan tersebut mencerminkan penurunan hampir 9,5% dalam 12 bulan terakhir, di tengah reposisi investor global dari aset berbasis dolar. 

Di Asia, kondisi ini mendorong penguatan mata uang regional, sementara pasar menimbang kemungkinan intervensi terkoordinasi AS dan Jepang untuk menahan pelemahan yen.

Isyarat intervensi AS–Jepang tekan dolar

Tekanan terhadap dolar meningkat setelah laporan pada Jumat (23/1)menyebutkan Federal Reserve Bank of New York menghubungi sejumlah lembaga keuangan untuk menanyakan pergerakan nilai tukar yen. Langkah ini dinilai tidak lazim dan memicu spekulasi bahwa Washington tengah bersiap mendukung otoritas Jepang dalam menstabilkan mata uangnya.

Yen mencatat lonjakan harian terbesar sejak Agustus, menguat hingga 1,75% ke level 155,63 per dolar AS. Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan pemerintah Jepang terhadap pergerakan pasar yang dinilai spekulatif.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada Minggu (25/1) menyatakan pemerintah akan merespons pergerakan nilai tukar yang dianggap tidak wajar. Pemerintah, menurut dia, siap mengambil langkah yang diperlukan terhadap aktivitas pasar yang bersifat spekulatif dan ekstrem, sebagaimana dikutip media setempat.

Bagi sebagian pelaku pasar, wacana intervensi terkoordinasi ini mengingatkan pada Plaza Accord 1985, ketika negara-negara ekonomi utama sepakat melemahkan dolar AS. 

Sejak 1996, AS tercatat hanya tiga kali melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing, dengan aksi terakhir pada 2011 pascagempa besar di Jepang, berdasarkan catatan otoritas moneter AS.

Mata uang Singapura dan Malaysia menguat

Di Asia Tenggara, dolar Singapura menguat 0,3% ke level 1,2684 per dolar AS, posisi terkuat sejak Oktober 2014. Penguatan ini terjadi menjelang peninjauan kebijakan Otoritas Moneter Singapura yang dijadwalkan Kamis (29/1), dengan inflasi yang relatif terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang dinilai masih solid.

Sementara itu, ringgit Malaysia menguat hingga 0,8% ke level 3,9750 per dolar AS, tertinggi sejak Juni 2018. Mata uang ini mencatat kinerja terbaik di Asia sepanjang Januari, melanjutkan tren positif dua tahun berturut-turut.

Penguatan ringgit ditopang faktor struktural domestik. Kepala strategi makro Asia di Sumitomo, Jeff Ng, menjelaskan bahwa dorongan dari sektor teknologi dan ekspor berperan penting. 

“AI dan permintaan ekspor mendorong penguatan ringgit Malaysia,” kata Ng. Ia menambahkan, “Bank sentral yang netral, bahkan cenderung hawkish, dapat mendukung ringgit.”

Bank Negara Malaysia pada 22 Januari mempertahankan suku bunga overnight policy rate di level 2,75%. Otoritas moneter menilai prospek pertumbuhan masih tangguh, ditopang ekspansi sektor pusat data dan peningkatan kedatangan wisatawan, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi bank sentral.

Yuan menguat, Beijing longgarkan kendali Kurs

Di China, bank sentral menetapkan nilai referensi harian yuan di level 6,9929 per dolar AS pada Jumat, menembus ambang psikologis 7 untuk pertama kalinya sejak Mei 2023. Penetapan ini dipandang sebagai sinyal bahwa Beijing membuka ruang bagi apresiasi yuan seiring pelemahan dolar secara global.

Kepala riset Asia ANZ, Khoon Goh, menilai langkah tersebut mencerminkan sikap kebijakan yang relatif akomodatif terhadap penguatan mata uang. 

“Penetapan kurs ini mengirimkan sinyal kuat bahwa para pembuat kebijakan masih nyaman dengan apresiasi yuan lebih lanjut,” ujarnya.

Di pasar lain, won Korea menguat ke kisaran 1.443 per dolar AS pada Senin. Penguatan ini terjadi di tengah pelemahnya dolar, meski pasar domestik Korea Selatan masih dibayangi arus keluar modal dan ketidakpastian politik internal.

Pergerakan mata uang Asia pada awal pekan ini menunjukkan respons cepat pasar terhadap sinyal kebijakan dan perubahan sentimen global, dengan perhatian tertuju pada dinamika kebijakan moneter AS, Jepang, dan China, serta implikasinya terhadap peran dolar AS di pasar keuangan internasional.

Sumber: Nikkei Asia