![]() |
Rendering NEOM Stadium, stadion futuristik yang direncanakan dibangun di dalam proyek kota The Line di Arab Saudi. |
Arab Saudi memangkas secara signifikan skala pembangunan NEOM, proyek megakota futuristik andalan Kerajaan, termasuk kota linier ambisius The Line, setelah Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengakui adanya keterlambatan, pembengkakan biaya, dan kelemahan dalam konsep awal. Penilaian ulang tersebut terungkap dalam laporan yang diterbitkan pada Minggu (25/1), di tengah evaluasi internal yang telah berlangsung hampir setahun dan masih berjalan hingga awal 2026.
Orang-orang yang mengetahui proses tersebut mengatakan kepada Financial Times bahwa Mohammed bin Salman kini membayangkan pembangunan yang jauh lebih kecil dari rencana semula. Proyek yang telah menelan biaya sekitar US$50 miliar itu juga disebut berpotensi dialihkan fungsinya, termasuk menjadi pusat data, seiring upaya Arab Saudi memosisikan diri sebagai pemain global di sektor kecerdasan buatan.
Sejak diluncurkan, NEOM dirancang sebagai simbol transformasi ekonomi di bawah Vision 2030. The Line diproyeksikan membentang sepanjang 170 kilometer dan menampung hingga 9 juta penduduk tanpa jalan raya, mobil, atau emisi karbon. Namun pelaksanaannya menghadapi tantangan besar, mulai dari kompleksitas teknis hingga tekanan pendanaan.
Evaluasi internal berlangsung di tengah kebutuhan Kerajaan untuk mengelola likuiditas secara lebih ketat. Harga minyak yang relatif lesu membatasi ruang fiskal, sementara Arab Saudi tetap menanggung komitmen pembiayaan besar untuk agenda internasional, termasuk penyelenggaraan Expo 2030 dan Piala Dunia FIFA 2034.
Tekanan terhadap NEOM juga tercermin dari keputusan menunda Asian Winter Games 2029. Arab Saudi bersama Dewan Olimpiade Asia pada Sabtu lalu mengumumkan penundaan tanpa batas waktu ajang tersebut, yang semula dijadwalkan digelar di Trojena, resor pegunungan dalam kawasan NEOM yang dirancang sebagai destinasi ski luar ruang pertama di Semenanjung Arab.
Dewan Olimpiade Asia menyatakan ajang itu akan dijadwalkan ulang “ke tanggal yang akan diumumkan kemudian,” tanpa merinci alasan penundaan. Reuters melaporkan otoritas Saudi sempat mempertimbangkan penundaan hingga 2033, sementara Dewan Olimpiade Asia juga dikabarkan telah menjajaki kemungkinan Korea Selatan menjadi tuan rumah pengganti.
Penilaian ulang NEOM sendiri diluncurkan tahun lalu oleh CEO baru, Aiman al-Mudaifer, menyusul kepergian CEO sebelumnya, Nadhmi al-Nasr, pada November 2024. Al-Nasr diberhentikan setelah resor yacht Sindalah yang merupakan satu-satunya bagian NEOM yang telah beroperasi dibuka tiga tahun lebih lambat dari jadwal dan dengan biaya sekitar tiga kali lipat dari anggaran awal.
Menurut sumber yang dikutip Financial Times dan Semafor, tinjauan strategis tersebut diperkirakan rampung pada akhir kuartal pertama 2026. Hasilnya dapat mencakup desain ulang The Line menjadi proyek yang lebih sederhana dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah terbangun.
NEOM juga membentuk divisi kepala staf baru berisi lima eksekutif senior untuk memperketat tata kelola, sementara jumlah tenaga kerja di lokasi konstruksi telah dikurangi melalui pemutusan hubungan kerja.
Di sisi finansial, tekanan terhadap megaproyek kian terlihat. Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi, pemilik NEOM dengan aset kelolaan hampir US$1 triliun, mencatat penurunan nilai sekitar US$8 miliar pada portofolio megaproyeknya sepanjang 2024.
Dalam sebuah forum investasi di Riyadh pada November 2025, seorang pejabat Saudi mengakui pemerintah telah “menghabiskan terlalu banyak” dan kini menghadapi kondisi defisit, situasi yang menjadi latar bagi keputusan untuk meninjau ulang skala dan arah NEOM.

0Komentar