USS Abraham Lincoln, kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz yang telah dikerahkan ke Laut Arab, terlihat di Stasiun Udara Angkatan Laut Pulau Utara di San Diego, California, pada 11 Agustus 2025. | Mike Blake/REUTERS

Amerika Serikat menambah jumlah kapal perang yang dikerahkan di Timur Tengah menjadi 10 unit, memperluas opsi militer Presiden Donald Trump di tengah tekanan terhadap Iran. Penambahan armada itu dilaporkan pada Rabu (28/1/2026), bersamaan dengan meningkatnya peringatan Washington kepada Teheran agar segera mencapai kesepakatan.

Pengerahan terbaru mencakup gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln yang dilengkapi tiga kapal perusak serta pesawat tempur siluman F-35C. Selain itu, enam kapal perang AS lain beroperasi di kawasan tersebut, terdiri dari tiga kapal perusak dan tiga kapal tempur pesisir.

Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan, total pengerahan itu hampir menyamai kehadiran armada Washington di kawasan Karibia saat operasi rahasia penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro. Armada tersebut, menurut pejabat itu, disiapkan untuk merespons cepat jika Presiden AS memutuskan langkah militer.

Trump menegaskan kesiapan tersebut melalui unggahan di platform Truth Social. “Seperti halnya dengan Venezuela, armada ini siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya, dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu,” tulis Trump. Ia menambahkan, “Waktu hampir habis,” seraya mendesak Iran agar segera mencapai kesepakatan.

Pernyataan itu direspons oleh Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui unggahan di platform X. Iran menyatakan terbuka untuk dialog, namun menegaskan akan membela diri dan memberikan respons terbesar jika diserang.

Pengerahan kapal induk dan kapal pendukung AS berlangsung di tengah situasi domestik Iran yang bergejolak. Dalam beberapa pekan terakhir, protes terkait kondisi ekonomi meluas dan berkembang menjadi aksi massa yang menentang sistem teokrasi negara tersebut. Pemerintah Iran merespons demonstrasi itu dengan tindakan keras yang berujung pada korban jiwa, sebagaimana dilaporkan AFP.

Trump sebelumnya juga beberapa kali memperingatkan Teheran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap demonstran. Presiden ke-47 Amerika Serikat itu secara terbuka mendorong rakyat Iran untuk mengambil alih lembaga-lembaga negara, dengan menyebut bantuan dari luar sedang dalam perjalanan.

Awal bulan ini, Trump sempat menarik kembali perintah serangan terhadap Iran. Saat itu, ia menyebut tekanan Washington telah menghentikan rencana lebih dari 800 eksekusi di Iran. Namun, dalam beberapa hari terakhir, ancaman kembali disampaikan seiring meningkatnya friksi antara Amerika Serikat dan Iran, bersamaan dengan penambahan kehadiran militer AS di Timur Tengah.