Kilang El Palito milik perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA (Petróleos de Venezuela S.A.)

Amerika Serikat menyelesaikan penjualan perdana minyak asal Venezuela senilai US$500 juta atau sekitar Rp 8,4 triliun pada Rabu (14/1/2026). Transaksi ini disebut sebagai bagian awal dari kesepakatan energi senilai US$2 miliar yang tercapai setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro awal Januari lalu, menurut pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump yang dikutip CNN.

Penjualan tersebut melibatkan pemerintah AS dan otoritas sementara Venezuela. Minyak mentah dijual dengan skema khusus, di mana hasil transaksi disimpan dalam rekening bank yang berada di bawah kendali pemerintah AS. Seorang pejabat AS mengatakan salah satu rekening utama ditempatkan di Qatar, yang dipilih sebagai lokasi netral untuk memfasilitasi aliran dana lintas negara.

Pejabat yang sama menyebut penjualan minyak tambahan diperkirakan berlangsung dalam beberapa hari hingga pekan ke depan. Skema ini ditempatkan sebagai tahap awal dari kesepakatan energi yang lebih luas, menyusul perubahan signifikan situasi politik Venezuela pasca-operasi militer AS.

Kesepakatan energi tersebut muncul setelah operasi militer AS pada 3 Januari 2026 yang menangkap Nicolás Maduro. Operasi dengan nama sandi Operation Absolute Resolve itu melibatkan pasukan khusus Delta Force dengan dukungan intelijen CIA. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, kini menghadapi dakwaan narkoterorisme di pengadilan federal Manhattan.

Sebelumnya, Presiden Trump menyatakan pemerintah sementara Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak mentah kepada AS. Berdasarkan harga pasar saat ini, volume tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan hingga US$2,8 miliar.

Gedung Putih menyatakan kesepakatan itu ditempatkan sebagai bagian dari upaya stabilisasi dan pemulihan sektor energi Venezuela. Juru Bicara Gedung Putih Taylor Rogers mengatakan Presiden Trump memprakarsai kesepakatan tersebut segera setelah penangkapan Maduro. 

“Presiden Trump memprakarsai kesepakatan energi bersejarah dengan Venezuela, segera setelah penangkapan narkoteroris Nicolás Maduro, yang akan menguntungkan rakyat Amerika dan Venezuela,” ujar Rogers, dilansir Fox Business, Jumat (16/1/2026).

Namun, respons pelaku industri energi masih cenderung berhati-hati. Dalam pertemuan dengan pejabat pemerintah AS di Gedung Putih pada Jumat (9/1), CEO ExxonMobil Darren Woods menyampaikan pandangan skeptis terkait iklim investasi di Venezuela. Ia menilai negara tersebut belum siap menerima investasi besar dari sektor swasta.

Menurut Woods, perubahan mendasar diperlukan sebelum Venezuela kembali menarik modal asing. “Perubahan signifikan harus dilakukan terhadap kerangka komersial, sistem hukum, harus ada perlindungan investasi yang tahan lama, dan harus ada perubahan pada undang-undang hidrokarbon di negara itu,” katanya kepada Reuters.

Di sisi lain, Chevron saat ini menjadi satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di Venezuela. Perusahaan tersebut memproduksi sekitar 200.000 hingga 240.000 barel per hari dan menargetkan peningkatan produksi hingga 50% dalam dua tahun ke depan.

Sementara itu, analis industri energi memperkirakan pemulihan penuh sektor minyak Venezuela membutuhkan investasi dalam skala besar. Untuk mengembalikan produksi ke level historis hingga 2040, dibutuhkan dana sekitar US$183 miliar, dengan tantangan utama mencakup infrastruktur yang menua, kepastian hukum, serta stabilitas politik pasca-pergantian kekuasaan.