AS menekan reformasi sektor minyak Venezuela pasca-penangkapan Maduro.

Pemerintahan Amerika Serikat mendorong perubahan mendasar sektor minyak Venezuela, kurang dari sebulan setelah pasukan AS menangkap Presiden Nicolás Maduro dalam operasi di Caracas. Washington meminta pemerintahan sementara Venezuela memutus hubungan ekonomi dengan China, Rusia, Iran, dan Kuba, serta membuka industri minyak sepenuhnya bagi investasi AS melalui revisi Undang-Undang Hidrokarbon Organik yang menghapus kontrol negara selama puluhan tahun dan menargetkan kenaikan produksi 18% tahun ini, sebagaimana dimuat dalam laporan Financial Times.

Target produksi dan perubahan regulasi tersebut diumumkan pada Sabtu (24/1) oleh CEO PDVSA Héctor Obregón, menyusul persetujuan pembacaan pertama revisi undang-undang di parlemen pada Kamis (22/1). Kebijakan ini menandai pergeseran dari model energi yang dibangun sejak era Hugo Chávez, dengan memberi ruang lebih besar bagi investor swasta.

Sebelum perubahan ini, sektor minyak Venezuela berada di bawah kendali negara yang ketat dan tertekan sanksi internasional. Produksi saat ini berada di kisaran 1,2 juta barel per hari, jauh di bawah puncak lebih dari 3 juta barel per hari pada awal 2000-an, di tengah penurunan investasi, keterbatasan teknologi, dan kendala pembiayaan.

Washington menempatkan momentum politik pasca-penangkapan Maduro sebagai peluang untuk merombak lanskap energi Venezuela. Pemerintahan Donald Trump menautkan kerja sama ekonomi dengan syarat geopolitik, yakni pemutusan hubungan ekonomi dengan mitra lama Caracas dan penguatan kemitraan dengan AS dalam produksi minyak.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan kepada anggota parlemen bahwa AS menilai Venezuela berada pada posisi tawar yang lemah akibat keterbatasan akses pasar dan tekanan likuiditas. Ia mengatakan kapal tanker minyak Venezuela telah penuh dan negara itu berisiko menghadapi kebangkrutan dalam hitungan minggu jika tidak segera menjual cadangannya.

Presiden Trump menegaskan posisi tersebut dalam wawancara dengan The New York Post pada Sabtu (24/1). “Kami yang mengendalikan minyak di Venezuela. Venezuela akan mendapat bagian, dan kami juga akan mendapat bagian,” katanya.

Pemerintahan Trump juga telah mengamankan penjualan awal minyak mentah Venezuela senilai sekitar US$500 juta, dengan US$300 juta dilaporkan telah ditransfer ke Caracas pada pekan ini. Selain itu, Washington mendorong investasi total hingga US$100 miliar untuk memulihkan industri minyak yang mengalami penurunan tajam.

Minat pelaku industri energi AS terlihat meningkat. Di Houston, mengutip Newsweek, CEO Halliburton Jeff Miller mengatakan kepada analis bahwa perusahaannya menerima lonjakan pertanyaan terkait peluang di Venezuela. CEO SLB Olivier Le Peuch menyebut perusahaannya sebagai satu-satunya penyedia layanan internasional yang masih aktif beroperasi di negara tersebut.

Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang saat ini berproduksi di Venezuela, dengan output sekitar 240.000 barel per hari. Menteri Energi Chris Wright mengatakan perusahaan itu melihat peluang menaikkan produksi hingga 50% dalam 18–24 bulan. Wakil Ketua Chevron Mark Nelson menyampaikan kepada Gedung Putih bahwa strategi awal difokuskan pada pemanfaatan fasilitas yang sudah ada di lapangan.

Namun kehati-hatian tetap terlihat. CEO ExxonMobil Darren Woods sebelumnya menyebut Venezuela “tidak layak investasi” di bawah kerangka regulasi yang berlaku saat ini, menandakan bahwa minat investor besar masih bergantung pada kepastian hukum dan fiskal.

Di sisi lain, perusahaan minyak milik negara China memiliki klaim atas lebih dari 4 miliar barel minyak Venezuela, hampir lima kali lipat posisi Chevron. Joint venture Sinovensa antara China National Petroleum Corp. dan PDVSA saat ini memproduksi sekitar 110.000 barel per hari.

Beijing telah menginvestasikan sekitar US$4,8 miliar di Venezuela selama dua dekade terakhir dan menerima sekitar 470.000 barel per hari minyak mentah Venezuela, setara dengan sekitar 4,5% impor minyak jalur laut China. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengecam laporan tuntutan AS tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Venezuela.

Analis J.P. Morgan memperkirakan produksi Venezuela secara realistis dapat meningkat ke kisaran 1,3–1,4 juta barel per hari dalam dua tahun jika perusahaan-perusahaan besar kembali beroperasi. Pelaku industri menilai pemulihan ke tingkat historis akan memerlukan investasi lebih dari US$100 miliar dan waktu bertahun-tahun, seiring kebutuhan perbaikan infrastruktur, teknologi, dan tata kelola.