kapal perang Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) Tiongkok. | Xinhua/Xu Wei


Amerika Serikat menyerukan China untuk menunjukkan pengekangan dan menghentikan aktivitas militernya di sekitar Taiwan, menyusul latihan militer skala besar Beijing selama dua hari yang mensimulasikan blokade terhadap pulau tersebut. Seruan itu disampaikan Departemen Luar Negeri AS pada Kamis, di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan.

Latihan militer China berlangsung pada Senin dan Selasa di wilayah perairan dan udara sekitar Taiwan. Beijing mengerahkan kapal angkatan laut, jet tempur, serta melakukan peluncuran rudal dalam operasi yang mereka sebut Mission Justice 2025. Otoritas China menyatakan latihan ini bertujuan menguji kesiapan tempur, termasuk simulasi penutupan akses ke Taiwan yang memerintah sendiri.

Departemen Luar Negeri AS menilai aktivitas tersebut berpotensi memperkeruh stabilitas kawasan. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menegaskan bahwa langkah Beijing justru meningkatkan tekanan regional.

“Aktivitas militer dan retorika China terhadap Taiwan dan pihak lain di kawasan meningkatkan ketegangan yang tidak perlu,” kata Pigott, seperti dikutip dari CBS News. “Kami mendesak Beijing untuk menunjukkan pengekangan, menghentikan tekanan militernya terhadap Taiwan, dan sebaliknya terlibat dalam dialog yang bermakna.”

Menurut Kementerian Pertahanan Taiwan, latihan ini merupakan putaran keenam manuver militer besar China di sekitar pulau tersebut sejak 2022, sekaligus yang terluas dari sisi cakupan wilayah. 

Selama operasi, militer China mengerahkan 77 pesawat militer dan 17 kapal angkatan laut yang bergerak mengitari Taiwan serta mempraktikkan penutupan pelabuhan-pelabuhan utama, termasuk Keelung dan Kaohsiung.

Komando Teater Timur China menyebut latihan itu ditujukan untuk menguji kemampuan blockade and control atas pelabuhan-pelabuhan kunci dan wilayah strategis. Otoritas Taiwan menyatakan seluruh pergerakan tersebut dipantau secara ketat oleh militernya.

Di Washington, pernyataan Departemen Luar Negeri AS kontras dengan sikap Presiden AS Donald Trump. Pada Senin, Trump menanggapi latihan tersebut dengan nada lebih tenang dan menyebut hubungannya dengan Presiden China Xi Jinping tetap berjalan baik.

Presiden Trump meremehkan kekhawatiran soal latihan militer China. Ia mengklaim punya "hubungan sangat baik" dengan Xi Jinping. "Saya tidak percaya dia akan melakukannya," katanya, seolah merujuk pada kemungkinan invasi. "Mereka sudah lakukan latihan angkatan laut di sana selama 20 tahun. Sekarang, orang-orang mulai melihatnya beda."

Meski demikian, pemerintah AS pada pertengahan Desember telah menyetujui paket penjualan senjata senilai US$11,1 miliar untuk Taiwan. Kesepakatan tersebut disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah pulau itu dan mencakup sistem roket HIMARS, howitzer, rudal antitank Javelin, serta drone munisi loitering Altius, berdasarkan keterangan resmi pemerintah AS.

Di Taipei, Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan komitmennya mempertahankan kedaulatan pulau tersebut. Dalam pidato Tahun Baru pada Kamis, Lai menyebut 2026 sebagai “tahun kritis” bagi Taiwan dan mendorong pengesahan cepat anggaran pertahanan senilai US$40 miliar yang masih tertahan di parlemen yang dikuasai oposisi.

Latihan militer China ini berlangsung tak lama setelah Presiden Xi Jinping menyampaikan pidato Malam Tahun Baru. Dalam pidato tersebut, Xi kembali menegaskan posisi Beijing terkait Taiwan.

“Tidak dapat dihentikan. Rakyat di kedua sisi selat memiliki ikatan darah,” ujar Xi, dilansir SCMP.

Beijing secara konsisten mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menyatakan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mewujudkan reunifikasi. 

Taiwan, yang memiliki pemerintahan dan militer sendiri, menolak klaim tersebut dan terus menegaskan statusnya sebagai entitas yang berdaulat, sebagaimana disampaikan otoritas Taiwan dan pernyataan resmi pemerintah China.