Pemerintah memastikan kebutuhan pangan nasional pada 2026 dapat dipenuhi dari produksi dan cadangan dalam negeri tanpa dukungan impor. | ANTARA FOTO

Indonesia memutuskan melarang impor beras, gula konsumsi, dan jagung untuk kebutuhan rumah tangga sepanjang 2026. Kebijakan ini diambil setelah pemerintah menilai produksi dalam negeri dan cadangan strategis telah mencukupi, menandai pergeseran besar dari posisi Indonesia yang selama ini dikenal sebagai salah satu importir utama komoditas pangan.

Keputusan tersebut dikonfirmasi Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada Kamis, menyusul rampungnya Neraca Komoditas Nasional 2026. Evaluasi terhadap produksi pangan strategis menunjukkan ketersediaan pasokan nasional dinilai aman tanpa dukungan impor.

Pejabat senior Kementerian Koordinator Bidang Pangan Tatang Yuliono mengatakan hasil tinjauan produksi menegaskan capaian kemandirian pada sejumlah komoditas utama. 

“Tidak akan ada impor gula untuk konsumsi, dan juga tidak akan ada impor beras untuk konsumsi pada tahun 2026. Beras industri juga tidak akan diimpor. Untuk konsumsi, kami hampir sepenuhnya swasembada,” kata Tatang, seperti dikutip Antara.

Kebijakan tersebut didukung lonjakan produksi sepanjang 2025. Produksi beras nasional tercatat mencapai 34,77 juta ton, naik 13,54% dibandingkan 2024 dan menjadi level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Pada periode yang sama, Indonesia mampu mempertahankan stok beras sekitar 3,5 juta ton hingga akhir 2025 tanpa melakukan impor sepanjang tahun tersebut.

Selain beras, pemerintah menilai pasokan gula dan jagung berada dalam kondisi aman. Produksi gula pasir pada 2026 diproyeksikan mencapai 3 juta ton, melampaui kebutuhan tahunan sebesar 2,836 juta ton, dengan dukungan stok sisa 2025 sekitar 1,437 juta ton. Sementara itu, produksi jagung diperkirakan mencapai 18 juta ton, sedikit di atas kebutuhan nasional yang berada di level 17,055 juta ton.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kesejahteraan petani dan rantai pasok domestik. Pemerintah juga menolak usulan Kementerian Perindustrian untuk mengimpor hampir 381.000 ton beras industri, serta meminta pelaku usaha menyerap bahan baku dari petani lokal.

Dampak kebijakan tersebut turut terasa di pasar global. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut keluarnya Indonesia dari pasar beras internasional ikut menekan harga dunia. Harga beras global tercatat turun di bawah US$400 per ton, dari sekitar US$650 per ton ketika Indonesia masih aktif mengimpor.

Sebagai perbandingan, Indonesia mengimpor sekitar 3,85 juta ton beras dalam 11 bulan pertama 2024, terutama dari Thailand, Vietnam, dan Myanmar. Namun, pelaku pasar menilai dampak terhadap eksportir regional pada 2026 akan terbatas karena Indonesia telah menghentikan pembelian beras sejak 2025.

Seorang pedagang berbasis di Singapura mengatakan kepada S&P Global bahwa tingginya produksi dan stok telah membentuk tren pasar beras yang cenderung bearish. Menurut dia, pergerakan harga selanjutnya sangat bergantung pada permintaan dari pembeli besar lain seperti China dan Bangladesh.