![]() |
| Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina. | Flickr |
Rusia buka suara setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memberi isyarat kompromi dengan menawarkan pelepasan ambisi bergabung dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO). Pernyataan itu disampaikan Moskwa pada Senin (15/12/2025), menyusul pembicaraan antara Zelensky dan utusan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung di Berlin, Jerman, pada akhir pekan.
Kremlin menyebut status Ukraina sebagai negara non-NATO sebagai salah satu dasar utama dalam upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak Rusia melancarkan invasi pada 2022.
Isu tersebut kembali mencuat setelah Kyiv menyatakan kesediaan meninjau ulang target keanggotaan aliansi militer Barat itu, dengan imbalan jaminan keamanan dari AS, negara-negara Eropa, dan mitra lain.
Situasi ini muncul di tengah putaran baru pembicaraan damai yang difasilitasi Jerman dan melibatkan perwakilan AS serta sejumlah negara Eropa. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya mencari kerangka penyelesaian konflik Rusia–Ukraina yang hingga kini belum menunjukkan tanda berakhir.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan, posisi Ukraina di luar NATO merupakan elemen kunci yang tidak bisa dilepaskan dari pembahasan damai. Ia menyampaikan pernyataan itu saat konferensi pers harian di Moskwa.
“Masalah ini adalah salah satu landasan dan membutuhkan diskusi khusus,” kata Peskov dilansir Reuters, seraya menambahkan Rusia masih menunggu penjelasan konkret dari AS terkait materi pembicaraan yang berlangsung di Berlin.
Sinyal kompromi dari Zelensky disampaikan di tengah pengakuannya bahwa tidak semua anggota aliansi mendukung Ukraina bergabung dengan NATO. Karena itu, Kyiv mengalihkan fokus pada skema jaminan keamanan alternatif yang dinilai setara dengan perlindungan kolektif Pasal 5 NATO, namun berada di luar struktur aliansi tersebut.
Di sisi lain, AS menyebut adanya perkembangan dalam dialog tersebut. Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, mengatakan pembicaraan dengan Zelensky menunjukkan kemajuan dalam upaya mencari jalan keluar dari perang Rusia–Ukraina.
Meski begitu, rincian mengenai bentuk jaminan keamanan maupun konsesi lain masih terus dibahas dan belum diumumkan ke publik.
Rusia selama ini berulang kali menegaskan penolakan terhadap keanggotaan Ukraina di NATO, yang disebut sebagai salah satu alasan utama pelancaran operasi militernya.
Selain isu aliansi militer, Moskwa juga menuntut status netral Ukraina dan pembahasan lebih lanjut mengenai wilayah-wilayah yang disengketakan.
Pembicaraan di Berlin menjadi salah satu forum terbaru yang mempertemukan kepentingan Ukraina, Rusia, dan negara-negara Barat, di tengah tekanan internasional untuk menghentikan perang yang berdampak luas terhadap keamanan Eropa dan stabilitas global.

0Komentar