Sumber: mu4.co.id

Gerakan infak Jumat yang digagas Muhammadiyah menghimpun dana sekitar Rp70 miliar untuk bantuan kemanusiaan korban bencana di sejumlah daerah. Program ini dijalankan atas instruksi Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada awal Desember 2025 dan dilaksanakan serentak di masjid, sekolah, kampus, rumah sakit, serta amal usaha Muhammadiyah (AUM) di berbagai wilayah. 

Dana dikumpulkan selama tiga pelaksanaan salat Jumat, yakni pada 12, 19, dan 26 Desember 2025, sebagai respons atas banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan daerah lain.

Penghimpunan dana dilakukan secara kolektif dari jamaah dan warga persyarikatan melalui skema infak rutin Jumat. Mekanisme ini dipilih untuk mempercepat respons kemanusiaan di tengah meningkatnya frekuensi bencana yang dipengaruhi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. 

Instruksi tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir melalui surat resmi yang diedarkan ke seluruh struktur organisasi.

Sebelum instruksi dikeluarkan, Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) telah melakukan pemantauan dan asesmen awal di sejumlah lokasi terdampak. 

Kebutuhan mendesak di lapangan, mulai dari pangan, layanan kesehatan, hingga hunian sementara, mendorong persyarikatan mengonsolidasikan sumber daya filantropi yang sudah berjalan rutin. Karena itu, infak Jumat diarahkan secara khusus untuk bantuan kemanusiaan agar penyalurannya lebih terfokus.

Pengelolaan dana dilakukan secara terintegrasi oleh Lazismu bekerja sama dengan MDMC di tingkat pusat hingga daerah. Skema ini mencakup pencatatan, pelaporan berjenjang, serta distribusi langsung ke wilayah terdampak. 

Dana digunakan untuk mengoperasikan dapur umum, pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan, layanan kesehatan darurat, penyediaan hunian sementara, hingga dukungan psikososial bagi penyintas. Di beberapa lokasi, bantuan juga mencakup distribusi logistik dan penyediaan akses internet gratis untuk mendukung koordinasi darurat.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menjelaskan bahwa infak Jumat diarahkan agar nilai fastabiqul khairat tidak berhenti pada ajakan moral. 

“Infak ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk hadir cepat di tengah masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Haedar dalam keterangan yang dikutip dari kanal resmi Muhammadiyah.

Meski nilainya relatif kecil dibandingkan total kerugian bencana yang mencapai triliunan rupiah, dana Rp70 miliar dinilai memberi dampak langsung di lapangan. 

Jaringan Muhammadiyah yang mencakup ribuan masjid, ratusan sekolah dan perguruan tinggi, serta lebih dari 100 rumah sakit dan ratusan klinik Muhammadiyah–Aisyiyah memungkinkan bantuan disalurkan dalam waktu singkat. Skema kontribusi massal, dengan nominal infak yang relatif kecil per jamaah, menjadi basis utama penghimpunan dana tersebut.

Sejumlah laporan internal MDMC menunjukkan bahwa dana infak Jumat menjadi salah satu penopang utama fase tanggap darurat di beberapa wilayah terdampak. 

Di sisi lain, Lazismu memastikan setiap penyaluran disertai laporan penggunaan dana yang disampaikan ke pimpinan di atasnya dan dipublikasikan melalui kanal resmi persyarikatan.

Program ini menjadi bagian dari pola filantropi Muhammadiyah yang mengandalkan penghimpunan rutin berbasis komunitas. 

Dalam konteks bencana yang semakin sering terjadi, infak Jumat diposisikan sebagai instrumen respons cepat yang melengkapi bantuan pemerintah dan lembaga kemanusiaan lainnya, sebagaimana dilaporkan oleh sejumlah media nasional dan internal Muhammadiyah sepanjang Desember 2025.