![]() |
| USS Gerald R. Ford (CVN-78), kapal induk bertenaga nuklir terbesar dan tercanggih milik Angkatan Laut Amerika Serikat. | U.S. Navy |
Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, menyerukan dukungan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menghadapi apa yang ia sebut sebagai eskalasi agresi militer Amerika Serikat terhadap sektor energi negaranya.
Imbauan itu disampaikan pada Minggu, 30 November 2025, melalui surat resmi yang dibacakan Wakil Presiden sekaligus Menteri Hidrokarbon Delcy Rodríguez dalam konferensi tingkat menteri OPEC.
Maduro menyebut pemerintahan Donald J. Trump berupaya “merebut cadangan minyak Venezuela yang sangat besar melalui kekuatan militer mematikan.”
Maduro menilai langkah AS berpotensi mengganggu stabilitas produksi minyak Venezuela serta memicu ketidakpastian pasar energi global. Venezuela tercatat memiliki cadangan minyak terbukti sekitar 303 miliar barel pada 2023, menurut data pemerintah yang dikutip sejumlah media internasional. Namun, ekspor minyak mentah negara itu masih tertekan akibat sanksi ekonomi Washington.
Sejak awal September 2025, AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Karibia dengan alasan operasi pemberantasan perdagangan narkoba.
Pemerintahan Trump mengerahkan lebih dari 14 kapal perang serta sekitar 15.000 personel, termasuk gugus tempur kapal induk USS Gerald R. Ford yang memasuki Laut Karibia pada pertengahan November. Serangkaian serangan terhadap kapal yang dicurigai terlibat penyelundupan narkoba dilaporkan menewaskan sedikitnya 83 orang.
Situasi kian memanas ketika Trump menyatakan bahwa ruang udara Venezuela “ditutup sepenuhnya.” Pemerintah Caracas menolak keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai ancaman kolonial yang melanggar hukum internasional. Otoritas penerbangan Venezuela kemudian mencabut izin operasional enam maskapai internasional sebagai respons.
Di sisi lain, kelompok pemerhati hak asasi manusia mengkritik operasi maritim AS sebagai tindakan pembunuhan di luar hukum. Beberapa media AS melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth memerintahkan serangan lanjutan terhadap penyintas kapal yang sudah sebelumnya diserang pada 2 September.
Permintaan dukungan kepada OPEC
Dalam pernyataan tertulis kepada para menteri OPEC, Maduro memperingatkan bahwa eskalasi militer AS “sangat berbahaya bagi stabilitas produksi minyak Venezuela dan pasar dunia.” Pemerintah Venezuela berharap negara-negara anggota OPEC menunjukkan solidaritas, termasuk menekan upaya yang dianggap mengancam kedaulatan nasional.
“Amerika Serikat berupaya menguasai cadangan minyak terbesar di dunia melalui kekuatan militer mematikan,” demikian kutipan surat Maduro yang dibacakan Rodríguez.
Maduro juga menyinggung dampak langsung manuver AS terhadap operasi energi dan perdagangan internasional. Caracas menilai tekanan militer tersebut merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menggulingkan pemerintahnya.
Komunikasi langsung Trump–Maduro
Presiden Donald Trump pada hari yang sama mengonfirmasi bahwa dirinya berbicara melalui telepon dengan Maduro pekan lalu. Ia menolak menjelaskan rincian isi pembicaraan, tetapi laporan The New York Times menyebut kedua pihak membahas kemungkinan pertemuan.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa komunikasi itu mencakup opsi amnesti jika Maduro bersedia mundur. Senator Partai Republik Markwayne Mullin mengatakan dalam wawancara CNN bahwa AS menawarkan Maduro kesempatan untuk meninggalkan Venezuela menuju Rusia atau negara lain.
Pemerintah Venezuela belum memberikan tanggapan terhadap klaim tersebut.
Penetapan sebagai organisasi teroris
Pada 24 November, pemerintahan Trump menetapkan Cartel de los Soles, kelompok yang dituduh dipimpin Maduro sebagai organisasi teroris asing dan menawarkan hadiah US$50 juta untuk penangkapannya. Caracas menyebut tuduhan itu sebagai fabrikasi dan bagian dari kampanye destabilisasi.
Belum ada respons resmi dari OPEC terkait permintaan dukungan Venezuela. Sejauh ini, negara anggota belum menyampaikan komentar publik mengenai langkah diplomatik Caracas tersebut.

0Komentar