Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan. Ini adalah salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) Indonesia yang bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional. | KPI


Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada 17 Desember 2025. Acara peresmian akan berlangsung di Kompleks Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, menandai pengoperasian penuh proyek strategis nasional senilai US$7,4 miliar atau sekitar Rp120 triliun. 

RDMP Balikpapan akan menjadikan fasilitas ini sebagai kilang minyak terbesar di Indonesia, sekaligus bagian dari upaya pemerintah menekan impor bahan bakar minyak (BBM) dan memperkuat ketahanan energi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa seluruh rangkaian persiapan teknis berjalan sesuai rencana. 

Insya Allah peresmian Kilang Balikpapan akan diresmikan tanggal 17 Desember. Tapi semuanya kita ikuti jadwal dari Bapak Presiden,” ujar Bahlil dalam keterangannya. 

Proyek ini meningkatkan kapasitas pengolahan dari 260 ribu barel per hari (bph) menjadi 360 ribu bph, melampaui Kilang Cilacap yang memiliki kapasitas 345 ribu bph.

Tekan impor BBM dan dorong kemandirian energi

Dengan peningkatan kapasitas tersebut, RDMP Balikpapan diproyeksikan mampu memasok sekitar 22–25 persen kebutuhan BBM nasional. Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Taufik Adityawarman menyampaikan bahwa progres konstruksi fisik proyek telah mencapai 96,97 persen. Menurutnya, peningkatan kapasitas produksi berpotensi menurunkan volume impor BBM nasional sebesar 10–15 persen.

Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya menyebut RDMP sebagai langkah signifikan menuju penguatan kemandirian energi. 

“RDMP ini jelas merupakan bagian dari ikhtiar menuju kemandirian energi. Dengan kapasitas yang meningkat, impor akan berkurang dan kemampuan kita memenuhi kebutuhan domestik juga semakin kuat,” ujar Bambang kepada media. 

Selain menekan impor, proyek ini diperkirakan memberi penghematan hingga Rp68 triliun per tahun dan berkontribusi pada produk domestik bruto (PDB) sekitar Rp514 triliun.

Produk standar Euro V dan serap 24 ribu tenaga kerja

Selain memperbesar kapasitas, RDMP Balikpapan akan memproduksi BBM berstandar Euro V dengan kandungan sulfur rendah maksimal 10 parts per million (ppm). Kilang ini juga menambah kapasitas produksi LPG dari 48 ribu ton menjadi 384 ribu ton per tahun, serta propylene sebagai bahan baku industri petrokimia hingga 225–300 ribu ton per tahun.

Wakil Menteri BUMN Yuliot Tanjung menyatakan kesiapan operasional fasilitas utama di dalam kompleks tersebut. “Sebagian fasilitas sudah memasuki tahap commissioning. Kita memastikan semuanya siap menuju operasi,” ujarnya. 

Salah satu unit kunci, Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) berkapasitas 90 ribu bph telah memulai pengoperasian awal pada 10 November 2025.

Proyek RDMP Balikpapan juga melibatkan lebih dari 24.000 tenaga kerja pada masa puncak konstruksi dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tercatat lebih dari 35 persen.