![]() |
| Bendera Uni Eropa berkibar di depan Gedung Berlaymont, markas besar Uni Eropa, di Bundaran Robert Schuman, Distrik Eropa, Brussel, Belgia. | Unsplash/Carl Gruner |
Uni Eropa (UE) memutuskan membekukan aset bank sentral Rusia yang tersimpan di kawasan Eropa tanpa batas waktu. Keputusan itu diambil melalui pemungutan suara mayoritas yang memenuhi syarat pada Jumat (12/12/2025) dan akan menggantikan mekanisme lama yang mewajibkan perpanjangan pembekuan setiap enam bulan melalui suara bulat negara anggota.
Aset yang dibekukan bernilai sekitar €210 miliar atau setara US$246 miliar. Dana tersebut akan digunakan sebagai dasar skema pinjaman bagi Ukraina, yang saat ini masih menghadapi agresi militer Rusia, sekaligus untuk menjaga stabilitas ekonomi Uni Eropa agar tidak terganggu oleh ketidakpastian kebijakan sanksi.
Kebijakan baru itu berlaku hingga tidak ada lagi ancaman langsung terhadap kepentingan ekonomi Uni Eropa. Dengan mekanisme ini, keputusan pembekuan tidak lagi bergantung pada konsensus penuh, melainkan melalui sistem qualified majority voting, sehingga satu atau dua negara tidak bisa lagi menggagalkan kebijakan secara sepihak.
Perubahan mekanisme pembekuan
Sebelum keputusan terbaru ini, pembekuan aset Rusia harus diperbarui setiap enam bulan dan membutuhkan persetujuan seluruh negara anggota. Dalam praktiknya, mekanisme tersebut kerap diwarnai ketegangan politik, terutama karena Hungaria dan Slovakia beberapa kali menyatakan keberatan dan mengancam tidak menyetujui perpanjangan sanksi.
Melalui skema baru, risiko tersebut dihilangkan. Keputusan kini dapat diambil selama didukung sedikitnya 55% negara anggota yang mewakili minimal 65% populasi Uni Eropa. Langkah ini dinilai memberi kepastian hukum dan politik bagi UE untuk merancang pemanfaatan aset Rusia dalam jangka menengah.
Sebagian besar aset bank sentral Rusia yang dibekukan berada di Belgia, khususnya di lembaga penyimpanan sekuritas Euroclear di Brussels, yang menyimpan sekitar €185 miliar dari total dana tersebut. Sisanya tersebar di sejumlah yurisdiksi Eropa lainnya dalam jumlah yang jauh lebih kecil.
Reaksi Hungaria dan Rusia
Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban menyatakan penolakan terbuka terhadap keputusan tersebut. Dalam unggahan di Facebook, Orban mengatakan langkah Uni Eropa berpotensi menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki terhadap sistem keuangan.
“Hungaria memprotes keputusan ini dan akan melakukan segala yang dapat dilakukannya untuk memulihkan keadaan yang sah,” tulis Orban, seperti dikutip Reuters, Jumat (12/12/2025).
Di sisi lain, Bank Sentral Rusia menyebut rencana Uni Eropa menggunakan asetnya sebagai tindakan ilegal. Otoritas moneter Rusia menyatakan berhak menempuh seluruh jalur hukum untuk melindungi kepentingannya.
Dalam pernyataan terpisah, Bank Sentral Rusia mengonfirmasi akan menggugat Euroclear di pengadilan moskwa. Gugatan itu terkait dampak pembekuan aset yang dinilai menghambat kemampuan Rusia menjual dan mengelola dana serta sekuritasnya.
Euroclear sebelumnya juga telah menjadi objek gugatan Rusia sejak Uni Eropa pertama kali membekukan aset tersebut pada 2022, tak lama setelah invasi ke Ukraina.
Skema pinjaman untuk Ukraina
Pembekuan aset tanpa batas waktu ini menjadi landasan bagi rencana Uni Eropa memberikan pinjaman hingga €165 miliar kepada Ukraina. Dana tersebut ditujukan untuk menutup kebutuhan anggaran militer dan sipil Ukraina pada periode 2026–2027.
Skema yang dirancang UE bersifat khusus. Secara teknis, bantuan itu berbentuk pinjaman, namun pembayaran kembali baru akan dilakukan Ukraina jika Rusia membayar ganti rugi perang kepada Kyiv. Dengan mekanisme tersebut, pinjaman pada praktiknya berfungsi seperti hibah yang memajukan pembayaran reparasi Rusia di masa mendatang.
Menteri Keuangan Denmark Stephanie Lose mengatakan proposal ini dipilih karena tidak membebani keuangan publik negara anggota Uni Eropa.
“Kami menilai proposal reparasi ini sebagai pilihan terbaik karena tidak membebani negara, keuangan publik, dan tingkat utang publik,” ujar Lose, yang negaranya tengah memegang presidensi bergilir Uni Eropa.
Ia menambahkan masih ada sejumlah kekhawatiran dari beberapa negara anggota yang perlu dibahas lebih lanjut. Meski demikian, diskusi terus dilakukan untuk mengklarifikasi aspek hukum dan teknis agar keputusan dapat diambil dalam waktu dekat.
Posisi Belgia dan agenda Dewan Eropa
Belgia menjadi salah satu negara kunci dalam pembahasan ini karena Euroclear berada di bawah yurisdiksinya. Pemerintah Belgia meminta jaminan politik dan finansial dari Uni Eropa agar tidak menanggung sendiri risiko jika gugatan Rusia terhadap Euroclear berujung pada kewajiban kompensasi.
Para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan bertemu dalam forum Dewan Eropa pada 18 Desember 2025. Pertemuan tersebut akan membahas rincian akhir skema pinjaman untuk Ukraina, termasuk bentuk jaminan bersama dari seluruh negara anggota Uni Eropa bagi Belgia serta mekanisme pembagian risiko jika proses hukum yang diajukan Rusia berlanjut.
Selain itu, Uni Eropa juga telah lebih dulu memanfaatkan windfall profits atau keuntungan bunga dari aset Rusia yang dibekukan sejak 2023. Keuntungan tersebut dialokasikan untuk membantu Ukraina tanpa menyentuh pokok aset, sambil menunggu kerangka hukum yang lebih permanen seperti yang kini sedang dirampungkan.

0Komentar