![]() |
| Teknisi berada di dalam kendaraan taktis Maung Versi satu saat uji coba di PT. Pindad (Persero), Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/1/2025). | ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/Spt |
Pemerintah bersama Induk Koperasi Unit Desa (Induk KUD) dan PT Pindad tengah mempersiapkan program mobil rakyat yang dirancang sebagai kendaraan niaga terjangkau untuk menunjang aktivitas ekonomi pedesaan. Inisiatif ini diperkenalkan dalam pembukaan Indonesia International Auto Accessories Expo (CIAAF) 2025 di ICE BSD, Tangerang, pada Jumat (12/12/2025), dengan sasaran utama petani, kelompok tani, dan pelaku usaha mikro di desa.
Ketua Umum Induk KUD Portasius Nggedi menjelaskan, mobil rakyat bukan kendaraan penumpang konvensional, melainkan kendaraan niaga ringan untuk mengangkut hasil pertanian dan mendukung logistik produksi. Program ini dikembangkan sebagai solusi transportasi produktif yang lebih sesuai dengan kebutuhan usaha rakyat di wilayah pedesaan.
Dalam kesempatan tersebut, Portasius menyebutkan estimasi harga kendaraan berada di kisaran Rp 50 juta per unit. Namun demikian, angka tersebut masih bersifat sementara karena pemerintah dan pihak terkait masih melakukan perhitungan teknis, terutama terkait penggunaan teknologi electric vehicle (EV).
"Yang saya dengar tapi belum pasti, harga kendaraan itu Rp 50 juta yang bisa sampai ke masyarakat. Tentunya akan dihitung lagi, karena mobil ini kan kendaraan EV, apakah itu sudah termasuk baterai. Yang mahal itu kan di baterainya," ujar Portasius.
Pengembangan mobil rakyat sebagai kendaraan listrik membuat struktur biaya produksi menjadi faktor krusial. Komponen baterai disebut menjadi penentu utama dalam penetapan harga akhir, sehingga keputusan final masih menunggu kajian teknis lanjutan dan kebijakan pemerintah.
Di sisi lain, Induk KUD menilai potensi pasar program ini cukup besar. Jaringan Induk KUD mencakup 9.436 koperasi yang tersebar di 31 provinsi, dengan jutaan anggota yang aktif di sektor pertanian dan usaha kecil.
Menurut Portasius, daya serap dari jaringan koperasi dinilai mampu menopang keberlanjutan produksi.
"Kalau satu koperasi saja bisa mengambil satu unit, itu sudah berapa jumlahnya. Apalagi kalau anggotanya per orang yang membutuhkan kendaraan untuk produksi atau distribusi," katanya.
Mobil rakyat dirancang untuk menggantikan peran kendaraan angkut sederhana yang selama ini digunakan pelaku usaha kecil, seperti kendaraan roda tiga atau bemo di sejumlah daerah. Karena itu, desain kendaraan difokuskan pada fungsi angkut dan ketahanan untuk kebutuhan harian di pedesaan.
Untuk merealisasikan program ini, Induk KUD telah menandatangani kerja sama dengan PT Pindad. Saat ini, Pindad sedang menyiapkan fasilitas produksi di Subang, Jawa Barat, sebagai bagian dari proyek mobil nasional yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional.
Pabrik tersebut ditargetkan memiliki kapasitas hingga 500.000 unit per tahun, dengan tahap awal produksi sekitar 100.000 unit yang direncanakan mulai berjalan pada 2028.

0Komentar