![]() |
| Bendera AS dan Ukraina dipajang di luar Gedung Putih untuk kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. | AFP Thomas COEX |
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memaparkan tiga syarat utama jaminan keamanan dari Amerika Serikat dalam rangka pembahasan kerangka perdamaian dengan Rusia. Pernyataan itu disampaikan pada Rabu (18/12) di Brussels, di tengah negosiasi intensif antara Ukraina, AS, dan negara-negara Eropa yang digelar di Berlin pada 14–15 Desember, Seperti dikutip Politoco.
Zelenskyy menegaskan, jaminan keamanan tersebut harus disetujui Kongres AS agar mengikat secara hukum, memiliki perlindungan setara klausul pertahanan kolektif Article 5 NATO, serta dilengkapi mekanisme respons yang jelas jika Rusia kembali melancarkan agresi. Tuntutan itu muncul saat pejabat AS menyebut proposal yang dibahas di Berlin sebagai jaminan keamanan “mirip Article 5” atau “platinum standard” perlindungan bagi Ukraina.
Pembahasan di Berlin merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun. Dalam paket pembicaraan tersebut, Ukraina disebut menunjukkan kesediaan untuk menunda tuntutan keanggotaan NATO secara segera, sebuah konsesi yang dinilai signifikan oleh para diplomat Barat.
Kerangka keamanan yang mulai dibentuk mencakup pemeliharaan kekuatan militer Ukraina sekitar 800.000 personel sebagai garis pertahanan utama. Pasukan ini akan tetap mendapat dukungan persenjataan dan pelatihan dari negara-negara Barat. Selain itu, pasukan multinasional yang dipimpin Eropa direncanakan memberikan dukungan tambahan, sementara AS berperan dalam sistem pemantauan dan verifikasi gencatan senjata atau ceasefire, menurut pejabat yang mengetahui jalannya pembahasan.
Di sela pertemuan di Brussels, Zelenskyy menjelaskan bahwa pembicaraan dengan Washington masih berlangsung. Ia menekankan pentingnya kepastian hukum dan kejelasan mekanisme respons.
“Kami sedang bekerja pada jaminan keamanan dengan Amerika Serikat. Sangat penting bagi kami bahwa hal ini dipilih di Kongres AS dan mengikat secara hukum,” ujarnya kepada UNN. Ia menambahkan, Ukraina juga membutuhkan kejelasan langkah mitra internasional jika agresi Rusia terulang.
Lebih jauh, jaminan yang diusulkan disebut akan mencakup komitmen untuk mengambil langkah-langkah pemulihan perdamaian dan keamanan apabila terjadi serangan bersenjata di masa depan. Langkah itu berpotensi meliputi penggunaan kekuatan militer, bantuan intelijen dan logistik, serta tindakan ekonomi dan diplomatik, sesuai prosedur nasional masing-masing negara pendukung.
Sementara itu, menurut laporan Washington Times, pejabat AS menyampaikan bahwa sekitar 90% isu dalam kerangka perdamaian telah dibahas dan mencapai titik temu. Meski begitu, perbedaan pandangan terkait wilayah masih menjadi ganjalan utama. Presiden AS Donald Trump, menurut laporan CNN, mendorong agar kesepakatan dapat dicapai sebelum Natal. Namun, Zelenskyy menegaskan belum ada rencana perdamaian final yang disepakati.
Dari pihak Eropa, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut jaminan keamanan yang dipresentasikan di Berlin sebagai sesuatu yang “luar biasa”. Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menekankan pentingnya efek pencegah terhadap Rusia. Ia menyatakan bahwa Moskwa harus memahami konsekuensi serius jika kembali menyerang Ukraina setelah kesepakatan damai tercapai.
Di sisi lain, menurut laporan Reuters, pejabat AS mengingatkan bahwa tawaran jaminan keamanan tersebut tidak akan tersedia tanpa batas waktu. Pernyataan itu dipahami sebagai sinyal tekanan agar Kyiv bersedia menerima sejumlah persyaratan, termasuk kemungkinan konsesi wilayah.
Rusia sendiri telah mengindikasikan penolakan terhadap beberapa elemen utama kerangka yang diusulkan, khususnya jaminan keamanan yang kuat bagi Ukraina.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pembicaraan masih bergerak dinamis, dengan sejumlah isu krusial tetap terbuka. Negosiasi lanjutan dijadwalkan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, seiring upaya para pihak mencari titik temu yang dapat diterima Ukraina, sekutu Barat, dan Rusia.

0Komentar