![]() |
| kapal tanker minyak Tanzanite, milik perusahaan pelayaran Navig8. Foto ilustrasi pelayaran komersial di tengah meningkatnya risiko keamanan maritim. | Paul Harrison/Wikimedia Commons/CC BY-SA 4.0 |
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan memperingatkan meningkatnya risiko keamanan maritim di Laut Hitam menyusul eskalasi serangan antara Rusia dan Ukraina. Peringatan disampaikan Selasa (17/12) dalam wawancara dengan TRT World, di tengah perubahan rute pelayaran kapal tanker minyak Rusia dan meningkatnya ancaman terhadap kapal komersial di kawasan tersebut.
Fidan menekankan bahwa eskalasi serangan tidak hanya mengancam jalur pelayaran strategis, tetapi juga berpotensi meluas ke kawasan Eropa. Ia menilai situasi semakin sulit dikendalikan karena serangan drone dan rudal yang menyasar kapal serta infrastruktur pelabuhan terus berulang.
Konflik tersebut telah berdampak langsung pada Turki. Menurut Al Jazeera, beberapa kapal dagang menjadi sasaran serangan, sementara drone tak terkendali memasuki wilayah udara Turki. Pada Senin (16/12), jet tempur F-16 Turki menembak jatuh sebuah drone yang mendekat dari arah Laut Hitam. Serangan Rusia ke pelabuhan Ukraina pekan lalu juga merusak tiga kapal kargo milik perusahaan Turki.
Situasi ini mendorong perubahan pola pelayaran. Data Bloomberg menunjukkan kapal tanker minyak Rusia kini memutar rute di sepanjang pesisir Georgia dan Turki untuk menghindari ancaman drone Ukraina, menambah jarak sekitar 350 mil atau 70% dari rute normal dari pelabuhan Novorossiysk di Rusia menuju selat Turki.
Langkah ini mengikuti serangan Ukraina terhadap “shadow fleet” Rusia, kapal tanker tua yang mengangkut minyak untuk menghindari sanksi Barat. Sejak akhir November, lima kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran drone Ukraina, termasuk Kairos, Virat (28 November), dan Dashan (10 Desember) di dekat perairan Turki.
Sebagai respons, Rusia melancarkan serangan rudal dan drone ke pelabuhan utama Ukraina di Chornomorsk dan Odesa pada 12–13 Desember, meningkatkan risiko bagi kapal niaga di salah satu jalur pelayaran tersibuk dunia.
Menanggapi situasi, Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) Arsenio Dominguez menyerukan semua pihak menahan diri. Ia menekankan pelaut, pekerja pelabuhan, dan kapal dagang tidak boleh dijadikan sasaran, serta mengingatkan risiko lingkungan yang meningkat akibat intensitas serangan di Laut Hitam, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi IMO yang dikutip Marine Insight.
Turki mengusulkan pengaturan keamanan terbatas untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi dan menjamin keselamatan navigasi maritim jika gencatan senjata menyeluruh belum memungkinkan.
Presiden Recep Tayyip Erdoğan menyatakan Ankara telah menyampaikan peringatan tegas kepada Moskwa dan Kyiv, sekaligus menegaskan penerapan Konvensi Montreux secara ketat untuk mencegah meluasnya konflik.
Selain itu, militer Turki memperkuat koordinasi dengan Rumania dan Bulgaria, dua negara pesisir Laut Hitam yang terdampak insiden drone hanyut dan ranjau laut. Reuters melaporkan Rumania menghancurkan drone maritim buatan Ukraina di perairannya pada 3 Desember, sementara sejak invasi Rusia pada 2022, sekitar 150 ranjau laut yang hanyut telah dinetralkan di kawasan tersebut.

0Komentar