![]() |
| Very Large Crude Carrier (VLCC) atau kapal tanker minyak mentah. | ISG |
Impor minyak mentah Rusia ke India diproyeksikan tetap solid pada Desember 2025, menembus sekitar 1,2 juta barel per hari (bph), meskipun Amerika Serikat mulai memberlakukan sanksi terhadap dua raksasa energi Rusia, Rosneft dan Lukoil, sejak 21 November 2025. Data dan keterangan sumber perdagangan yang dikutip Reuters menunjukkan, aliran minyak Rusia ke India tidak mengalami penurunan tajam seperti yang sebelumnya diperkirakan.
Kondisi ini menegaskan posisi India sebagai salah satu tujuan utama ekspor minyak Rusia sejak konflik Ukraina dan pemberlakuan sanksi Barat. Selama hampir tiga tahun terakhir, India—importir minyak terbesar ketiga di dunia—menjadi pasar kunci bagi Moskow dalam menjaga volume ekspor energi.
Pembelian minyak Rusia terutama dilakukan oleh kilang-kilang milik negara India. Sebaliknya, pelaku pengilangan swasta mengambil sikap yang lebih berhati-hati. Perbedaan respons ini mencerminkan perhitungan bisnis dan risiko yang berbeda di tengah tekanan geopolitik yang meningkat.
Sebelum sanksi terbaru diberlakukan, Rusia telah menawarkan minyak mentah dengan harga diskon untuk mempertahankan pangsa pasarnya di Asia. Strategi ini membuat minyak Rusia tetap kompetitif, terutama bagi kilang negara India yang berorientasi pada pasokan domestik dan efisiensi biaya. Diskon harga yang ditawarkan saat ini mencapai sekitar US$6–7 per barel di bawah acuan Brent, lebih lebar dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Di sisi lain, sanksi Amerika Serikat terhadap Rosneft dan Lukoil dirancang untuk menekan pendapatan Rusia yang dinilai digunakan untuk membiayai perang di Ukraina. Pembatasan tersebut mencakup larangan transaksi dengan entitas AS serta pembatasan akses ke sistem keuangan berbasis dolar, yang meningkatkan risiko bagi perusahaan yang berhubungan langsung dengan kedua produsen minyak tersebut.
Seorang pejabat Amerika Serikat, seperti dikutip Reuters, menjelaskan bahwa tekanan ini dimaksudkan untuk memaksa Rusia menerima kondisi perdagangan yang kurang menguntungkan.
“Rusia telah dipaksa menerima diskon besar dan pembeli yang lebih sedikit untuk minyaknya,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa langkah ini diarahkan untuk membatasi sumber pendanaan Kremlin.
Meski demikian, perusahaan pelat merah India memilih mempertahankan pembelian. Indian Oil Corporation menjaga volume impor di kisaran normal, sementara Bharat Petroleum dilaporkan meningkatkan alokasi pembelian untuk pengiriman Januari 2026.
Kilang Nayara Energy, yang dimiliki konsorsium Rusia, juga terus mengimpor minyak Rusia secara eksklusif. Sejumlah produsen Rusia disebut memanfaatkan skema pertukaran minyak di pasar domestik untuk menjaga pasokan ke India tanpa melanggar ketentuan sanksi secara langsung.
Sebaliknya, sikap lebih berhati-hati terlihat di kalangan kilang swasta. Reliance Industries, pengolah minyak swasta terbesar di India, menghentikan pembelian baru minyak Rusia guna memenuhi standar kepatuhan Barat dan menjaga akses ke pasar ekspor Eropa serta Amerika Serikat.
Meski begitu, perusahaan ini masih menerima pengiriman dari kontrak jangka panjang yang ditandatangani sebelum sanksi berlaku. Mangalore Refinery and Petrochemicals juga dilaporkan tidak melakukan pembelian minyak Rusia untuk pengiriman Januari.
Perbedaan strategi antara kilang negara dan swasta mencerminkan orientasi yang berbeda. Kilang milik negara relatif lebih terlindungi dari risiko sanksi sekunder dan berfokus pada ketahanan energi domestik. Sebaliknya, kilang swasta dengan portofolio ekspor besar ke pasar Barat cenderung menghindari potensi gangguan akses perbankan dan perdagangan internasional.
Pola impor ini turut memengaruhi hubungan dagang antara Amerika Serikat dan India. Tekanan terhadap pembelian minyak Rusia disebut membebani perundingan dagang kedua negara. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menggandakan tarif impor atas sejumlah barang asal India menjadi 50%, dengan sekitar separuhnya dikaitkan sebagai penalti atas pembelian minyak Rusia.
Di tengah tantangan tersebut, hubungan energi India dan Rusia justru menunjukkan penguatan. Hal ini tercermin dari pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi pada 3–4 Desember 2025, yang menegaskan komitmen kedua negara untuk melanjutkan kerja sama di sektor energi.
Data perdagangan menunjukkan India mengimpor sekitar 1,77 juta bph minyak Rusia pada November 2025, naik sekitar 3,4% dibandingkan Oktober. Angka ini menjadi level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir dan menjadi dasar proyeksi kuatnya impor pada Desember, terutama selama diskon harga tetap lebar dan pasokan tidak terganggu.
Situasi ini memperlihatkan bahwa sanksi Barat belum sepenuhnya memutus aliran minyak Rusia ke Asia. Melalui kombinasi kebijakan energi nasional dan strategi korporasi yang berbeda, India masih mampu menjaga pasokan minyak dengan harga lebih murah, di tengah dinamika geopolitik yang terus membentuk ulang peta perdagangan energi global.

0Komentar