Bendera Ukraina dan Uni Eropa di Kherson. | Defense of Ukraine/Wikimedia Commons


Para pemimpin Uni Eropa menyepakati pemberian pinjaman senilai €90 miliar kepada Ukraina dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Brussels, Jumat (19/12/2025). Keputusan tersebut diambil untuk menutup defisit anggaran Kyiv yang kian mengancam stabilitas negara di tengah perang melawan Rusia yang memasuki tahun keempat, menurut pernyataan resmi Dewan Eropa yang dikutip Reuters.

Pinjaman ini akan disalurkan selama dua tahun ke depan, 2026–2027, dan didukung oleh anggaran bersama Uni Eropa. Skema tersebut menjadikannya salah satu paket dukungan finansial terbesar yang pernah diberikan blok Eropa kepada Ukraina.

Kesepakatan ini juga menandai berakhirnya perdebatan internal Uni Eropa mengenai penggunaan aset Rusia yang dibekukan—opsi yang pada akhirnya gagal mencapai konsensus.

Tekanan fiskal dan ancaman krisis kas

Keputusan tersebut diambil di tengah kondisi fiskal Ukraina yang semakin rapuh. Otoritas Uni Eropa dan International Monetary Fund (IMF) memperkirakan Ukraina membutuhkan tambahan dana sekitar €135 miliar euro dalam dua tahun ke depan.

Tanpa dukungan baru, krisis kas diproyeksikan dapat dimulai pada April 2026, dengan risiko keterlambatan pembayaran gaji militer, pensiun, serta layanan publik. Proyeksi ini tercantum dalam dokumen internal Uni Eropa yang dilihat Reuters.

Dari total kebutuhan tersebut, pinjaman Uni Eropa mencakup sekitar dua pertiga, sementara sisanya diharapkan berasal dari mitra internasional lain, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara G7.

Tekanan waktu semakin besar karena dinamika geopolitik global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mendorong Kyiv untuk segera menyepakati kesepakatan damai dengan Moskwa—sebuah tekanan yang dinilai sejumlah pejabat Eropa dapat melemahkan posisi Ukraina jika kondisi ekonominya lebih dulu runtuh.

Opsi aset Rusia yang kandas

Sebelum pinjaman disepakati, Uni Eropa sempat membahas opsi penggunaan sekitar ¢200 miliar aset bank sentral Rusia yang dibekukan di Eropa, sebagian besar disimpan di Belgia melalui lembaga kliring Euroclear.

Namun, rencana tersebut kandas. Belgia menuntut jaminan pembagian tanggung jawab hukum dan finansial jika Rusia menggugat negara-negara Uni Eropa di pengadilan internasional. Tuntutan ini ditolak oleh sejumlah negara anggota lain yang menilai risikonya terlalu besar.

Perdana Menteri Belgia Bart De Wever menggambarkan rencana tersebut secara pesimistis. “Seluruh urusan ini sangat berisiko, sangat berbahaya, dan menimbulkan banyak pertanyaan,” katanya.

Dengan kegagalan ini, opsi penggunaan aset Rusia sebagai jaminan pinjaman resmi ditinggalkan, meski aset tersebut tetap dibekukan.

Kompromi politik di dalam Uni Eropa

Penerbitan utang bersama Uni Eropa membutuhkan kesepakatan bulat dari 27 negara anggota, sesuatu yang secara politik sensitif. Sejumlah negara seperti Hongaria, Slovakia, dan Republik Ceko yang dikenal skeptis terhadap dukungan bagi Ukraina diberi pengecualian komitmen untuk mencegah kebuntuan, menurut sumber diplomatik Uni Eropa.

Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang sebelumnya mendorong pemanfaatan aset Rusia, akhirnya menerima kompromi tersebut. Menurutnya, pinjaman Uni Eropa tetap mengirim pesan kuat kepada Moskwa.

Keputusan ini, kata Merz, “mengirim sinyal tegas kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.”

Skema pengembalian pinjaman

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menjelaskan bahwa pinjaman ini bersifat tanpa bunga bagi Ukraina dan memiliki mekanisme pengembalian yang tidak biasa.

“Ukraina hanya perlu membayar kembali pinjaman tersebut setelah Rusia membayar ganti rugi atas kerusakan akibat perang,” ujarnya dalam konferensi pers KTT Uni Eropa.

Jika Rusia membayar reparasi baik melalui putusan pengadilan internasional maupun kesepakatan damai dana tersebut akan diprioritaskan untuk melunasi pinjaman Uni Eropa. Jika tidak, risiko ditanggung bersama oleh Uni Eropa melalui anggarannya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyambut keputusan tersebut, namun tetap menegaskan keyakinannya bahwa aset Rusia seharusnya digunakan.

“Aset Rusia harus digunakan untuk membela diri dari agresi Rusia dan membangun kembali apa yang telah dihancurkan,” ujarnya.

Di saat yang sama, Amerika Serikat tengah mengupayakan jalur diplomasi sendiri. Delegasi Ukraina dan AS dijadwalkan menggelar pembicaraan intensif pada Jumat–Sabtu di Amerika Serikat, dengan fokus pada jaminan keamanan, menurut pernyataan resmi pemerintah Ukraina.

Zelensky mempertanyakan kejelasan komitmen tersebut, terutama terkait mekanisme dan respons jika Rusia kembali melakukan agresi.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan agar Eropa mulai berbicara langsung dengan Moskwa. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menemukan kerangka kerja yang memungkinkan keterlibatan kembali dalam diskusi.

Posisi terakhir

Dengan kesepakatan politik tercapai, Uni Eropa akan memasuki tahap teknis, termasuk ratifikasi parlemen dan penjadwalan pencairan dana mulai 2026. Diskusi mengenai masa depan aset Rusia diperkirakan tetap berlanjut, meski untuk saat ini dikesampingkan.

Bagi Ukraina, pinjaman Uni Eropa ini menjadi penyangga utama agar negara tetap berfungsi secara ekonomi dan administratif di tengah perang dan tekanan diplomatik yang terus berlangsung.