![]() |
| Foto ilustrasi menara seluler, juga dikenal sebagai menara telepon seluler atau base transceiver station (BTS). | APLUSWIRE/Robin Santoso |
Industri telekomunikasi India mencatat rekor baru pada November 2025 dengan total pelanggan menembus 1,2 miliar, di tengah lonjakan cepat adopsi 5G dan ekspansi besar-besaran infrastruktur jaringan. Capaian ini disampaikan Cellular Operators Association of India (COAI) dalam tinjauan akhir tahun yang dirilis pada 18 Desember, menegaskan peran sektor telekomunikasi sebagai salah satu penggerak utama transformasi digital di negara tersebut.
COAI mencatat hampir 400 juta pelanggan seluler di India kini telah terhubung ke jaringan 5G. Dengan teledensitas mencapai 86,76%, industri ini memperluas jangkauan layanan ke hampir seluruh wilayah, seiring operator mengoperasikan lebih dari 515.000 base transceiver station 5G di seluruh negeri hingga Oktober 2025. Data ini menempatkan India sebagai salah satu pasar 5G terbesar dan tercepat tumbuh secara global.
Pertumbuhan pelanggan terjadi di tengah percepatan pembangunan jaringan. COAI mengutip Ericsson Mobility Report yang menyebutkan jumlah pelanggan 5G India mencapai 394 juta pada akhir 2025, setara 32% dari total koneksi seluler nasional.
Jumlah stasiun pemancar 5G juga terus bertambah, dari sekitar 508.000 situs pada awal Oktober menjadi melampaui 515.000 hanya dalam hitungan pekan, seiring fokus operator pada perluasan cakupan dan kapasitas jaringan.
Di sisi konsumsi, pengguna seluler di India kini rata-rata menghabiskan 36 GB data per bulan. Angka ini tertinggi di dunia dan jauh di atas rata-rata global yang berada di kisaran 21 GB.
Tingginya konsumsi didorong kombinasi tarif data yang relatif terjangkau dan kuatnya ekosistem konten digital, mulai dari layanan video hingga aplikasi berbasis cloud. COAI, merujuk proyeksi Ericsson, memperkirakan konsumsi data bulanan per pengguna di India berpotensi mendekati 65 GB pada 2031, seiring penetrasi 5G yang semakin luas.
Selain pertumbuhan pelanggan dan trafik data, sektor telekomunikasi India juga mencatat lonjakan di sisi industri manufaktur dan ekspor. Menteri Komunikasi Uni, Jyotiraditya Scindia, menyampaikan kepada Parlemen pada 17 Desember bahwa ekspor produk telekomunikasi India meningkat 72% dalam lima tahun terakhir. Nilainya naik dari sekitar Rs 10.000 crore pada tahun fiskal 2021 menjadi Rs 18.406 crore pada FY25.
Kenaikan ekspor tersebut mencerminkan dorongan pemerintah dan industri menuju kemandirian manufaktur. Saat ini, tingkat substitusi impor di sektor telekomunikasi India telah mendekati 60%. Sejumlah segmen bahkan disebut hampir sepenuhnya mandiri, termasuk produksi antena, peralatan jaringan optik, serta perangkat di lokasi pelanggan.
Kebijakan insentif seperti production-linked incentive (PLI) turut mendorong ekspansi kapasitas manufaktur domestik dan diversifikasi rantai pasok.
Di tengah ekspansi jaringan dan peningkatan skala industri, isu keamanan siber juga mendapat perhatian lebih besar. Direktur Jenderal COAI, Lt. Gen. Dr. SP Kochhar, dalam catatan akhir tahun menyebut bahwa operator telekomunikasi menjadikan ketahanan jaringan dan keamanan digital sebagai prioritas sepanjang 2025.
Upaya yang dilakukan mencakup penerapan sistem deteksi penipuan berbasis kecerdasan buatan, solusi keamanan cloud, serta analitik jaringan untuk menekan penyalahgunaan panggilan dan pesan berbahaya.
Pemerintah India, di sisi lain, menempatkan sektor telekomunikasi sebagai pilar pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Menteri Scindia menargetkan kontribusi sektor ini terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat menjadi 20% dalam satu dekade ke depan, dari kisaran 12–14% saat ini. Target tersebut tercermin dalam rancangan Kebijakan Telekomunikasi Nasional yang tengah dibahas, termasuk arah pengembangan jaringan generasi lanjut dan penguatan industri pendukung.
Salah satu isu yang masih menjadi perdebatan di kalangan industri adalah alokasi spektrum untuk jaringan private 5G.
COAI menyampaikan pandangan bahwa kebutuhan konektivitas perusahaan sebaiknya dipenuhi melalui mekanisme penyewaan spektrum dan network slicing oleh operator berlisensi, ketimbang alokasi spektrum langsung. Pendekatan ini dinilai dapat menjaga efisiensi penggunaan spektrum sekaligus mendukung keberlanjutan investasi jaringan publik.
Secara keseluruhan, data COAI dan laporan industri sepanjang 2025 menunjukkan bahwa telekomunikasi India tidak hanya bertumbuh dari sisi jumlah pelanggan, tetapi juga semakin terintegrasi dengan agenda digitalisasi, penguatan manufaktur, dan kebijakan ekonomi nasional.
Ekspansi 5G, lonjakan konsumsi data, serta peningkatan ekspor menjadi penanda utama perubahan lanskap sektor ini dalam satu tahun terakhir, dengan dukungan kebijakan dan investasi yang masih terus berjalan.

0Komentar