seorang teknisi PLN sedang bekerja di atas menara transmisi listrik darurat di daerah Aceh, Indonesia, setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November 2025. | PLN


Pemulihan layanan publik pascabanjir bandang di Aceh menunjukkan kemajuan, namun belum berlangsung merata. Listrik di Banda Aceh telah pulih sepenuhnya sejak Kamis malam (18/12), sementara jaringan internet di provinsi tersebut baru mencapai sekitar 73% hingga Jumat pagi (19/12), mencerminkan perbedaan kecepatan pemulihan antar sektor infrastruktur.

Pemulihan kelistrikan dipastikan setelah PT PLN berhasil menghubungkan kembali sistem Aceh dengan jaringan besar Sumatra. Perbaikan difokuskan pada jalur transmisi 150 kilovolt Pangkalan Brandan–Langsa yang sebelumnya terganggu akibat banjir dan longsor.

Penyambungan kembali rampung pada Rabu (17/12), sehingga suplai listrik ke Banda Aceh kembali normal sehari kemudian. Informasi ini disampaikan PLN melalui sejumlah keterangan resmi yang dimuat media nasional.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan pemulihan dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia agar layanan publik diprioritaskan pascabencana. 

Ia menyebut petugas tetap disiagakan 24 jam untuk menjaga stabilitas pasokan, terutama di wilayah yang masih berisiko banjir dan longsor.

“Alhamdulillahi Rabbil Alamin… Takbir,” ujar Darmawan saat indikator sistem kelistrikan menunjukkan kondisi normal, sebagaimana dikutip dari SindoNews.

Di sisi lain, pemulihan konektivitas digital berjalan lebih lambat. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan tingkat pemulihan jaringan internet di Aceh baru mencapai 73,5% per Kamis (18/12) dini hari, naik dari sekitar 50% sehari sebelumnya. Angka tersebut tertinggal dibanding Sumatera Barat yang sudah mencapai 98–99% dan Sumatera Utara di kisaran 97–98%, sebagaimana disampaikan Meutya dalam keterangan kepada wartawan.

Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan, dari 3.735 menara Base Transceiver Station (BTS) yang terdampak, sebanyak 3.283 BTS atau 87,89% telah kembali beroperasi. Namun, masih terdapat 452 menara yang belum pulih. Wilayah dengan gangguan terberat antara lain Bener Meriah, Aceh Tamiang, dan Gayo Lues.

Direktur Utama Telkomsel Nugroho mengidentifikasi pasokan listrik sebagai kendala utama pemulihan internet. Ia menjelaskan banyak jaringan transmisi tegangan tinggi atau sutet yang roboh sehingga belum dapat kembali menyuplai listrik secara stabil ke infrastruktur telekomunikasi.

“Banyak sutet yang sudah rubuh dan belum bisa disambungkan kembali,” kata Nugroho pada Jumat (19/12).

Selain itu, sejumlah pembangkit listrik masih belum beroperasi normal, sementara jaringan fiber optik mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor. Untuk menjaga layanan tetap berjalan, operator mengerahkan genset, koneksi satelit, serta mempertimbangkan jalur alternatif, termasuk opsi kabel bawah laut atau undersea cable.

Pemerintah meminta operator mempercepat perbaikan dan memastikan kesiapan sumber listrik cadangan, terutama menjelang periode Natal dan Tahun Baru, seiring potensi curah hujan tinggi berdasarkan peringatan BMKG.