Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. | White House

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim AS telah berperan layaknya “Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sesungguhnya” setelah kesepakatan gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja mulai berlaku pada Sabtu 27/12/2025). Gencatan senjata tersebut mengakhiri hampir tiga pekan bentrokan di wilayah perbatasan kedua negara yang menewaskan lebih dari 100 orang dan memaksa hampir satu juta warga sipil mengungsi.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu. Dalam unggahannya, Trump mengucapkan selamat kepada para pemimpin Thailand dan Kamboja atas tercapainya kesepakatan yang dinilainya cepat dan adil, sekaligus melontarkan kritik terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dianggap minim peran dalam penyelesaian konflik global.

Trump secara khusus menyinggung konflik internasional yang masih berlangsung, termasuk perang Rusia–Ukraina. Ia mengaitkan gencatan senjata Thailand–Kamboja sebagai bagian dari upaya mediasi yang melibatkan AS.

“Dengan semua perang dan konflik yang telah saya selesaikan dan hentikan selama sebelas bulan terakhir, DELAPAN, mungkin Amerika Serikat telah menjadi PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA YANG SESUNGGUHNYA,” tulis Trump. Ia juga mendesak PBB untuk “mulai aktif dan terlibat dalam PERDAMAIAN DUNIA”.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut baik berlakunya gencatan senjata tersebut. Ia menyebut langkah itu sebagai upaya awal untuk meredakan penderitaan warga sipil dan membuka jalan menuju perdamaian yang lebih berkelanjutan. Dalam pernyataannya pada Sabtu, Guterres turut menyampaikan apresiasi kepada Malaysia, Tiongkok, dan AS yang terlibat dalam proses mediasi.

Sikap serupa disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Ia mendorong Thailand dan Kamboja untuk menghormati komitmen gencatan senjata serta menerapkan secara penuh Kuala Lumpur Peace Agreement yang menjadi dasar kesepakatan kedua negara.

Sementara itu, proses diplomatik lanjutan terus bergulir. Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menjadi tuan rumah pertemuan dua hari antara Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow dan Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn di Provinsi Yunnan, Tiongkok, yang dimulai pada Minggu. 

Wang menyatakan kepada delegasi Kamboja bahwa gencatan senjata tersebut telah membuka ruang untuk membangun kembali perdamaian, seraya mendorong kedua pihak melangkah bertahap menuju penghentian konflik yang menyeluruh dan bertahan lama.

Kesepakatan gencatan senjata itu ditandatangani oleh Menteri Pertahanan Thailand Natthaphon Narkphanit dan Menteri Pertahanan Kamboja Tea Seiha. Dokumen tersebut mengatur penghentian tembakan, pembekuan pergerakan pasukan, serta pembukaan akses bagi warga sipil yang mengungsi untuk kembali ke wilayah masing-masing. 

Thailand juga menyatakan kesediaan memulangkan 18 tentara Kamboja yang ditahan sejak Juli, setelah 72 jam gencatan senjata berlangsung tanpa pelanggaran.

Bentrokan bersenjata di kawasan perbatasan kembali pecah pada 8 Desember dan, berdasarkan penghitungan terbaru, menewaskan sedikitnya 101 orang. Pemerintah Thailand melaporkan 26 tentara dan satu warga sipil tewas secara langsung, ditambah 44 warga sipil yang meninggal akibat dampak lanjutan konflik. 

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Kamboja mencatat 31 korban jiwa dari kalangan sipil. Di tengah situasi tersebut, hampir satu juta warga di kedua negara terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan.