Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara dengan peserta Konferensi Aksi Titik Balik 2023 di Pusat Konvensi Palm Beach County di West Palm Beach, Florida. | Gage Skidmore/Flickr via Wikimedia Commons

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa fase kedua dari rencana perdamaian Gaza akan dimulai “cukup segera”, meski situasi di lapangan masih diwarnai pelanggaran gencatan senjata. Pernyataan itu disampaikan di Gedung Putih pada Rabu waktu setempat, beberapa jam setelah serangan Israel di Gaza menewaskan sedikitnya lima warga Palestina, termasuk dua anak.

Trump mengatakan proses menuju fase lanjutan tetap berjalan. “Fase dua sedang berjalan. Ini akan terjadi cukup segera,” ujarnya kepada wartawan. Ia juga mengeklaim gencatan senjata masih berada di jalur yang benar, meskipun rangkaian serangan tetap terjadi di sejumlah titik.

Komponen penting masih mandek

Lebih dari tujuh pekan setelah Dewan Keamanan PBB mengesahkan rencana perdamaian 20 poin yang disusun AS pada 17 November, sejumlah elemen kunci fase transisi belum terbentuk. 

Rencana tersebut mencakup pembentukan Peace Council yang diketuai Trump untuk mengawasi tata kelola pascaperang di Gaza serta pembentukan International Stabilization Force untuk mengamankan wilayah dan mendukung proses demiliterisasi.

Namun hingga kini, Washington belum mengumumkan anggota kedua badan itu. Sejumlah diplomat kawasan menyebut banyak negara masih ragu mengirim pasukan karena khawatir terseret dalam konflik antara Hamas dan Israel. 

Indonesia dan Azerbaijan termasuk pihak yang menyatakan kesiapan berkontribusi, dengan Indonesia menyiapkan hingga 20.000 personel. Negosiasi terhambat oleh penolakan Israel terhadap keikutsertaan Turki, yang berperan sebagai penjamin gencatan senjata dan memiliki hubungan dengan Hamas.

Gencatan senjata terus dilanggar

Gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober disebut Otoritas Gaza telah dilanggar lebih dari 500 kali oleh Israel, menewaskan lebih dari 360 warga Palestina sejak diberlakukan. Pada Rabu 3 Desember 2025, pasukan Israel menyerang tenda-tenda pengungsi di al-Mawasi, Khan Younis, setelah militan menyerang tentara Israel di Rafah.

Hamas menuding Israel melakukan “kejahatan perang” dan meminta para mediator seperti Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat untuk memastikan perjanjian dihormati. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel “tidak akan mentolerir” serangan terhadap prajurit IDF dan akan merespons jika dianggap perlu.

Perselisihan utama terkait fase lanjutan rencana perdamaian berkisar pada syarat pelucutan senjata Hamas. Menurut sejumlah pejabat AS, para pemimpin Hamas secara tertutup menyatakan komitmen untuk menyerahkan senjata berat, namun dalam pernyataan publik mereka tetap menegaskan hak melakukan perlawanan bersenjata selama Israel mempertahankan operasi militer di Gaza.

Sejumlah laporan media Israel menyebut AS menargetkan pengumuman resmi transisi ke fase dua pada akhir bulan, bergantung pada kesediaan Hamas memenuhi prasyarat demiliterisasi.