TNI dan Universitas Pertahanan membentuk satgas penjernihan air untuk menyediakan air bersih dan siap minum di wilayah bencana Sumatera.


Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Universitas Pertahanan (Unhan) RI membentuk Satuan Tugas Pengembangan dan Penerapan Teknologi Penjernihan Air untuk mendukung penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Satgas ini dibentuk pada pertengahan Desember 2025 sebagai respons atas krisis air bersih yang meluas di wilayah terdampak.

Satgas Air dipimpin Kolonel Inf Musthofa sebagai Koordinator Komando, dengan Ketua Tim Teknis Diyan Parwatiningtyas, dosen Program Studi Fisika FMIPA Unhan RI. Keterlibatan TNI dan Unhan difokuskan pada percepatan penyediaan air bersih dan air siap minum bagi masyarakat terdampak, termasuk di lokasi pengungsian serta daerah dengan infrastruktur air yang rusak akibat banjir dan longsor.

Berdasarkan data hingga 18 Desember 2025, bencana hidrometeorologi di tiga provinsi tersebut telah menewaskan 1.068 orang, sementara 190 orang lainnya masih dilaporkan hilang. Lebih dari 3,3 juta penduduk terdampak langsung dan sekitar 1 juta orang terpaksa mengungsi. Kondisi ini menempatkan kebutuhan air bersih sebagai salah satu prioritas utama dalam fase tanggap darurat, selain evakuasi dan layanan kesehatan.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, satgas mengembangkan sistem water treatment berbasis reverse osmosis berkapasitas tinggi. Teknologi ini mampu memproduksi hingga 20.000 liter air bersih per hari untuk kebutuhan mandi dan mencuci, serta sekitar 4.000–5.000 liter air siap minum. Unit-unit tersebut direncanakan disebar ke titik-titik bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Penjelasan teknis disampaikan oleh Sersan Mayor Satu Kadet Fisika Aqeel Kayana Wiendra. Ia mengatakan sistem reverse osmosis yang dirakit satgas dirancang agar dapat dioperasikan di lapangan dengan sumber air terbatas.

“Selanjutnya water treatment reverse osmosis ini akan disebarkan ke lokasi-lokasi bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat,” ujarnya, Kamis (18/12/2025), sebagaimana dikutip dari SindoNews.

Secara teknis, sistem penjernihan menggunakan tabung filtrasi berbahan Fiber Reinforced Plastic (FRP) yang diisi media penyaring berlapis, mulai dari manganese ferrolite, manganese zeolit, karbon aktif, hingga silika. 

Air yang telah melewati tahap filtrasi kemudian diproses dengan teknologi reverse osmosis dan penyinaran ultraviolet (UV) untuk menghilangkan garam terlarut, kontaminan mikro, serta bakteri dan virus.

Perakitan satu unit alat membutuhkan waktu sekitar empat hari dengan estimasi biaya produksi Rp 60–70 juta per unit. Satgas melibatkan dosen dan kadet Unhan RI lintas disiplin, termasuk Rekayasa Sumber Daya Air, Fisika, dan Teknik Sipil, guna memastikan sistem dapat berfungsi optimal di berbagai kondisi lapangan.

Dukungan lintas lembaga juga mengalir dalam upaya penyediaan air bersih. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengirimkan tiga unit teknologi Arsinum (air siap minum) ke Aceh Tamiang, Takengon, dan Tapanuli Tengah. 

Setiap unit Arsinum mampu menghasilkan sekitar 30.000 liter air bersih dan 10.000 liter air siap minum per hari, sebagaimana disampaikan BRIN melalui keterangan resmi yang dimuat sejumlah media arus utama.

Sementara itu, TNI Angkatan Darat sebelumnya telah mengerahkan 10 mobil reverse osmosis ke wilayah terdampak, terdiri dari tujuh unit di Aceh, satu unit di Sumatera Utara, dan dua unit di Sumatera Barat.

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah, menjelaskan bahwa mobil penjernih air tersebut dapat mengolah air kubangan dan genangan banjir menjadi air layak konsumsi, termasuk dengan menghilangkan bakteri, garam, dan logam berat.