Kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke milik Angkatan Laut AS USS Higgins dan fregat kelas Halifax milik Angkatan Laut Kanada HMCS Ottawa melakukan manuver di perairan internasional di Laut Cina Selatan pada 11 Januari 2025. | Sailor 3rd Class Jacob Saunders/Canadian Armed Forces/Canadian Armed Forces


Pejabat intelijen tertinggi Taiwan mengungkapkan pada Rabu bahwa militer Tiongkok secara rutin melakukan serangan simulasi terhadap kapal angkatan laut asing yang melintasi Selat Taiwan. Praktik ini disebut berlangsung seiring meningkatnya aktivitas Beijing di sekitar perairan strategis tersebut. Direktur Jenderal Biro Keamanan Nasional Tsai Ming-yen menyampaikan hal itu saat rapat dengan anggota parlemen di Taipei.

Tsai menjelaskan bahwa sepanjang tahun ini delapan negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Australia, Prancis, Inggris, dan Selandia Baru, telah mengirimkan kapal angkatan laut melalui selat sempit itu sebanyak 12 kali. 

Menurut dia, setiap transit dibayangi kapal perang Tiongkok, dan “terkadang” Beijing mengerahkan unsur angkatan udara untuk melakukan serangan simulasi guna menegaskan kehadiran dan klaim otoritasnya.

Pengungkapan tersebut muncul di tengah upaya Taiwan memperdalam koordinasi keamanan dengan mitra internasional. Tsai menyebut Taiwan berbagi intelijen mengenai pola operasi militer Tiongkok selama transit kapal asing, sehingga negara sekutu dapat memahami karakteristik aktivitas Beijing di perairan itu. Ia menegaskan bahwa China “mengawasi setiap kapal” yang memasuki wilayah tersebut.

Beijing mengklaim Selat Taiwan sebagai bagian dari yurisdiksinya. Sementara itu, Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara lain menyatakan jalur itu adalah perairan internasional yang harus tetap terbuka bagi seluruh kapal. Selat Taiwan merupakan rute penting bagi sekitar setengah lalu lintas kapal kontainer dunia.

Pengumuman Tsai disampaikan tidak lama setelah Presiden Taiwan Lai Ching-te mengajukan rencana anggaran pertahanan tambahan sebesar 40 miliar dolar AS untuk delapan tahun ke depan. Dana itu difokuskan pada penguatan kemampuan perang asimetris serta percepatan pembangunan sistem pertahanan udara T-Dome. Pemerintah menyebut anggaran pertahanan 2026 akan mencapai 3,3 persen dari PDB, level tertinggi sejak 2009, dan berpotensi ditingkatkan hingga 5 persen pada 2030.

Menteri Pertahanan Wellington Koo mengatakan pembicaraan awal dengan Amerika Serikat mengenai pembelian persenjataan di bawah anggaran khusus tersebut telah dimulai. Ia menambahkan bahwa peningkatan belanja diperlukan mengingat intensitas operasi harian militer Tiongkok yang dinilai Taipei sebagai bentuk tekanan.

Selain patroli harian, Beijing juga melaksanakan latihan besar yang diberi nama “Strait Thunder-2025A” pada April lalu. Latihan tersebut berfokus pada simulasi blokade gabungan dan serangan presisi di sekitar Taiwan, menurut laporan berbagai media internasional.