![]() |
| Alfamart menambah 800 gerai hingga September 2025 dan menyiapkan ekspansi ke Bangladesh serta satu negara Asia lain. |
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mengebut ekspansi gerai Alfamart sepanjang 2025 dan mulai mempersiapkan penetrasi pasar internasional, seiring kenaikan kebutuhan investasi dan strategi perluasan jaringan ritel. Hingga September 2025, perseroan telah membuka lebih dari 800 gerai baru, atau sekitar 80 persen dari target 1.000 gerai pada tahun ini.
Direktur AMRT, Solihin, menyebutkan pembukaan satu gerai berikut biaya perawatan membutuhkan investasi minimal Rp 200 juta per tahun. Dengan proyeksi pembukaan 1.000 gerai, kebutuhan pendanaan ekspansi mencapai sekitar Rp 200 miliar. Untuk 2026, target penambahan gerai tetap berada di kisaran serupa, dengan fokus perluasan di luar Pulau Jawa.
Perseroan juga mulai mengintensifkan ekspansi regional. Solihin menjelaskan bahwa Alfamart tengah menyiapkan pembukaan gerai di Bangladesh dan menjajaki satu negara Asia lain yang saat ini sudah memasuki tahap pembicaraan lanjutan. Langkah tersebut mengikuti capaian ekspansi di Filipina, yang sejauh ini telah mencapai sekitar 2.400 gerai.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan ekspansi ritel Indonesia kini tidak hanya dalam bentuk pengiriman produk, tetapi juga melalui ekspor layanan ke negara tetangga.
“Kita tidak hanya ekspor barang tetapi juga jasa, tokonya juga ada di sana,” ujarnya menanggapi rencana Alfamart.
Di pasar domestik, AMRT memperkuat kolaborasi melalui kemitraan dengan PT Motul Indonesia Energy (MIE). Kolaborasi tersebut memanfaatkan platform omnichannel Alfagift, yang memiliki lebih dari 7,7 juta pengguna aktif dan melayani lebih dari 200.000 transaksi harian.
Managing Director MIE, Welmart Purba, menjelaskan bahwa Motul kini menghadirkan produk seperti Scooter Oil dan Scooter Gear melalui Alfagift. Untuk menjamin pasokan, MIE bekerja sama dengan distributor lokal di 20 pusat distribusi Alfamart yang meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Selatan.
Hingga September 2025, AMRT membukukan pendapatan Rp 94,47 triliun, tumbuh 7,09 persen secara tahunan. Namun laba bersih turun 3,40 persen menjadi Rp 2,31 triliun, tertekan beban ekspansi yang terus meningkat.
“Tahun ini harus lebih baik daripada tahun lalu. Tahun depan harus lebih baik lagi,” kata Solihin.

0Komentar