Foto bendera Republik Tiongkok (Taiwan) yang berkibar di atas atap bangunan bergaya arsitektur Tiongkok tradisional. | Unsplash/Romeo A


Taiwan pada Minggu (28/12) menjadi pihak pertama yang secara terbuka menyambut pengakuan Israel terhadap Somaliland, langkah yang menuai penolakan luas dari komunitas internasional dan dipandang melanggar integritas teritorial Somalia. Dukungan itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Taiwan sehari setelah Israel mengumumkan pengakuan resminya.

Dalam pernyataan tertulis yang dikutip Focus Taiwan, Kementerian Luar Negeri Taiwan menyebut Taiwan, Israel, dan Somaliland sebagai like-minded democratic partners yang berbagi nilai demokrasi, kebebasan, dan supremasi hukum. Pemerintah Taiwan berharap keputusan Israel dapat membuka jalan bagi kerja sama tiga pihak yang lebih erat di berbagai sektor.

Sikap Taipei tersebut kontras dengan posisi mayoritas negara dan organisasi internasional. Amerika Serikat, Uni Eropa, Uni Afrika, serta lebih dari 20 negara Arab, Islam, dan Afrika secara terbuka menolak pengakuan Israel. 

Mengutip Al Jazeera, Presiden Donald Trump pada Jumat (26/12) menyatakan AS tidak akan mengikuti langkah tersebut. Uni Eropa, sehari kemudian, menegaskan pentingnya menghormati persatuan, kedaulatan, dan integritas teritorial Somalia.

Israel menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui Somaliland pada 26 Desember. Pengakuan itu dituangkan dalam deklarasi bersama yang ditandatangani Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Luar Negeri Gideon Saar, dan Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi. Netanyahu menyebut keputusan itu sejalan dengan spirit of the Abraham Accords, sebagaimana dilaporkan sejumlah media internasional.

Somalia merespons keras pengakuan tersebut. Pemerintah di Mogadishu menyebutnya sebagai serangan yang disengaja terhadap kedaulatan negara. 

Uni Afrika memperingatkan langkah Israel berpotensi menjadi preseden berbahaya bagi stabilitas kawasan Afrika. Penolakan serupa disampaikan Mesir, Turki, Djibouti, dan Organisation of Islamic Cooperation, menurut pernyataan resmi masing-masing pihak.

Dukungan Taiwan tidak terlepas dari hubungan yang telah terbangun dengan Somaliland sejak 2020, ketika kedua pihak membuka kantor perwakilan timbal balik. Sejak itu, kerja sama meluas ke bidang kesehatan, pendidikan, pertanian, keamanan, hingga pengembangan energi.

Pada Juli lalu, Taiwan dan Somaliland juga menandatangani perjanjian kerja sama penjaga pantai untuk meningkatkan keselamatan navigasi di Laut Merah dan Teluk Aden. Presiden Taiwan Lai Ching-te saat itu menyebut kesepakatan tersebut sebagai penanda awal kerja sama maritim yang lebih erat antara kedua pihak, menurut keterangan resmi pemerintah Taiwan.

Dukungan terhadap Somaliland juga mencerminkan posisi Taiwan di panggung internasional. Seperti Somaliland, Taiwan berfungsi sebagai entitas negara de facto namun tidak memiliki pengakuan diplomatik luas, terutama akibat tekanan dari negara tetangga yang lebih besar, dalam hal ini China.

Somaliland mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991 dan telah menjalankan pemerintahan sendiri selama lebih dari tiga dekade dengan stabilitas relatif serta pemilu yang berlangsung berkala. Namun hingga pengumuman Israel pada akhir Desember ini, wilayah tersebut belum pernah mendapat pengakuan resmi dari negara anggota PBB mana pun.