Serangan ke kapal tanker di Laut Hitam. | Tangkapan Layar Video Reuters/SECURITY SERVICE OF UKRAINE

Turki memanggil duta besar Rusia dan Ukraina pada 4 Desember 2025 untuk menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Rusia di zona ekonomi eksklusifnya. Langkah ini diambil menyusul serangkaian serangan drone terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi di Laut Hitam yang dinilai berisiko langsung terhadap keamanan maritim Turki dan stabilitas kawasan.

Wakil Menteri Luar Negeri Turki Ayşe Berris Ekinci menjelaskan pemanggilan itu berlangsung di Ankara dan dilakukan di tengah eskalasi konflik yang dalam beberapa pekan terakhir mulai merembes ke perairan Turki. Menurut dia, serangan timbal balik antara Rusia dan Ukraina kini tidak lagi terbatas di zona perang utama.

“Kami melihat eskalasi yang sangat serius dalam beberapa minggu terakhir. Serangan kini terjadi sangat dekat dengan perairan kami,” kata Ekinci dalam rapat komisi urusan luar negeri parlemen Turki, seperti dikutip Reuters.

Pemanggilan tersebut dilakukan setelah sejumlah kapal tanker minyak Rusia diserang drone angkatan laut Ukraina di perairan internasional dekat pesisir Turki. Dua kapal tanker berstatus sanctioned, Kairos dan Virat, dilaporkan diserang pada 28 November. Beberapa hari kemudian, kapal tanker lain, Midvolga-2, terkena serangan sekitar 80 mil laut dari garis pantai Turki saat mengangkut minyak bunga matahari.

Di sisi lain, serangan juga menyasar terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di dekat pelabuhan Novorossiysk, Rusia, pada 29 November. Fasilitas ini menangani lebih dari 1 persen pasokan minyak global dan sekitar 80 persen ekspor minyak mentah Kazakhstan. 

Akibatnya, operasi ekspor sempat dihentikan sementara. Pemerintah Kazakhstan kemudian melayangkan protes resmi dan menyebut insiden tersebut sebagai serangan ketiga terhadap infrastruktur kritis konsorsium internasional itu.

Menteri Energi Turki Alparslan Bayraktar pada 4 Desember mendesak Rusia dan Ukraina agar menjauhkan infrastruktur energi dari konflik bersenjata. Dalam keterangannya, Bayraktar menegaskan bahwa jalur pasokan energi internasional harus tetap aman dan tidak terganggu oleh perang.

“Energi harus dikeluarkan dari lingkaran perang ini. Gangguan sekecil apa pun berisiko memicu dampak global,” ujar Bayraktar.

Serangan terhadap kapal dan fasilitas energi di Laut Hitam turut mendorong lonjakan tajam biaya asuransi pelayaran. Sumber industri menyebutkan premi risiko perang di kawasan tersebut naik hingga 250 persen, dengan besaran mencapai sekitar 1 persen dari nilai kapal, tertinggi sejak akhir 2023. Kenaikan biaya ini langsung berdampak pada keputusan pelaku usaha pelayaran.

Perusahaan pelayaran Turki, Besiktas Shipping, pada 3 Desember mengumumkan penghentian seluruh operasi yang berkaitan dengan Rusia. Keputusan itu diambil setelah salah satu kapal tankernya mengalami kerusakan akibat ledakan misterius di lepas pantai Senegal.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyebut serangan terhadap kapal-kapal komersial sebagai tindakan yang sangat berbahaya dan dapat mengancam keselamatan seluruh pelayaran di wilayah Laut Hitam. Ankara juga telah membahas situasi keamanan maritim tersebut dengan negara-negara NATO serta Bulgaria dan Rumania.

Namun demikian, Turki tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Moskwa dan Kyiv. Sejak awal perang, Ankara berperan sebagai mediator, termasuk dalam perjanjian Black Sea Grain Initiative pada 2022 dan sejumlah pertukaran tahanan. Presiden Recep Tayyip Erdoğan juga telah memperingatkan semua pihak agar tidak memperluas eskalasi ke jalur pelayaran sipil.

Di sisi lain, serangan terhadap armada bayangan Rusia dinilai sebagai bagian dari strategi Ukraina untuk menekan pendapatan minyak Moskwa yang digunakan membiayai perang. Bagi Turki, meluasnya dampak konflik ke perairannya menambah risiko langsung terhadap keamanan nasional, perdagangan, serta pasokan energi kawasan.