Lee Jae-myung, Presiden Korea Selatan. | Youtube.com

Korea Selatan menyatakan kesiapan untuk menjadi mediator dalam perselisihan antara dua kekuatan ekonomi Asia. Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers bersama media asing di Seoul, Rabu (3/12/2025). Lee mengatakan langkah itu bertujuan meredam ketegangan yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.

“Berpihak hanya akan meningkatkan konflik. Lebih baik mencari cara untuk hidup berdampingan,” ujar Lee dalam kesempatan tersebut. Ia menegaskan posisi Seoul yang ingin memainkan peran konstruktif di tengah rivalitas ekonomi yang kian terbuka di kawasan Asia Timur.

Pernyataan itu muncul di tengah memanasnya hubungan antara Jepang dan China terkait isu perdagangan dan kebijakan keamanan maritim. Perselisihan tersebut turut berdampak pada rantai pasok regional serta aktivitas perdagangan internasional, terlebih Jepang dan China merupakan dua mitra dagang utama Korea Selatan.

Sejauh ini pemerintah Korea Selatan memilih tidak memihak dalam konflik tersebut. Langkah itu disebut selaras dengan upaya menjaga keseimbangan hubungan diplomatik dan ekonomi, baik dengan Washington maupun Beijing. 

Seoul juga tengah mempersiapkan forum dialog di KTT APEC 2025, yang dijadwalkan berlangsung di Korea Selatan, sebagai ruang kemungkinan bagi pertemuan tingkat tinggi negara-negara besar.

Lee, yang mulai menjabat pada Juni 2025, dikenal mendorong pendekatan pragmatis dalam kebijakan luar negeri, termasuk memperkuat aliansi dengan Amerika Serikat sambil tetap membuka ruang kerja sama strategis dengan China. Dalam beberapa kesempatan, ia juga menyampaikan kesiapan membangun kembali dialog dengan Korea Utara.

Pada bagian terpisah dalam konferensi pers yang sama, Lee menyebut pemerintahnya berkomitmen menjaga stabilitas kawasan melalui diplomasi terbuka dan kolaboratif. “Kami akan berupaya menemukan jalan yang saling menguntungkan dan tidak memicu eskalasi,” ujarnya.

Tawaran mediasi tersebut dipandang mempertegas posisi Seoul sebagai pihak netral yang ingin menjaga stabilitas perdagangan dan keamanan regional. Kawasan Asia-Pasifik tengah menghadapi tekanan akibat perang dagang, ketegangan geopolitik, dan gangguan rantai pasok yang mempengaruhi pasar global.

Korea Selatan menilai dialog terbuka di forum regional dapat menjadi momentum penting untuk menurunkan risiko gesekan ekonomi dan mengembalikan kepastian bagi pelaku usaha. Pemerintah juga menyebut bahwa stabilitas kawasan menjadi kunci bagi pemulihan ekonomi Asia setelah periode ketidakpastian global.