pembangkit listrik DTEK Ukraina yang mengalami kerusakan parah akibat serangan. | Kyiv Independent


Rusia dan Ukraina saling melaporkan serangan udara yang menghantam infrastruktur energi pada Minggu (7/12) dini hari, ketika gelombang serangan musim dingin keempat kembali menekan jaringan listrik Ukraina di tengah kebuntuan negosiasi perdamaian yang dimediasi Amerika Serikat. 

Berdasarkan laporan resmi, Angkatan Udara Ukraina mencegat 175 dari 241 drone dan empat dari lima rudal yang ditembakkan Rusia, sementara serangan balasan Ukraina disebut Moskow menumbangkan 77 drone di wilayah Saratov dan Rostov.

Seorang pria berusia 50 tahun tewas di Novhorod-Siversky, Oblast Chernihiv, dan kerusakan luas dilaporkan pada fasilitas energi di Poltava dan Chernihiv. Di Kremenchuk, Penjabat Gubernur Poltava Volodymyr Kohut melaporkan kebakaran di beberapa instalasi energi yang berdampak pada layanan listrik, air, dan pemanas. 

Wali Kota Vitalii Maletskyi menyebut pasokan air telah dipulihkan sebagian. Di sisi lain, Gubernur Rostov Yuri Slyusar mengatakan satu menara transmisi di distrik Sholokhovsky rusak sehingga sekitar 250 warga kehilangan listrik.

Krisis energi memburuk

Perkembangan ini terjadi ketika Ukraina menghadapi krisis energi musim dingin terparah sejak perang dimulai. Mengacu pada data otoritas energi, jadwal pemadaman listrik per jam kini diberlakukan di seluruh wilayah akibat tergerusnya kapasitas pembangkit nasional. 

Rusia telah menghancurkan sekitar 9 gigawatt kapasitas listrik Ukraina sejak musim semi 2024 dan merusak sekitar 60% fasilitas produksi gas alam sejak Oktober. Total kapasitas pembangkit Ukraina turun menjadi 12–13 gigawatt, jauh di bawah kebutuhan minimal sekitar 18 gigawatt pada suhu beku.

Dalam beberapa pekan terakhir, serangan Rusia terhadap jaringan energi meningkat tajam. Serangan besar pada 5–6 Desember melibatkan 704 drone dan rudal di delapan wilayah. Mengacu pada laporan Badan Energi Atom Internasional, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia sempat kehilangan seluruh pasokan listrik eksternalnya—insiden ke-11 sejak invasi dimulai.

Kebuntuan pembicaraan damai

Sementara itu, upaya diplomatik di Jenewa belum menghasilkan terobosan berarti. Utusan AS Steve Witkoff bertemu Presiden Vladimir Putin pada 2 Desember selama lebih dari lima jam. 

Namun, menurut Ajudan Kremlin Yuri Ushakov, tidak ada kompromi tercapai, terutama terkait isu teritorial. “Beberapa proposal Amerika tampak dapat diterima,” ujar Ushakov, tetapi ia menegaskan masalah wilayah tetap menjadi titik buntu.

Di pihak Ukraina, Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha mengatakan Rusia masih mengabaikan setiap inisiatif perdamaian dan memilih melancarkan serangan terhadap infrastruktur sipil. Di Washington, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut pembicaraan terbaru sebagai “sangat produktif”, meski perbedaan besar masih mencakup tuntutan Moskow atas konsesi teritorial dan batasan militer Ukraina.