Rusia melancarkan serangan drone terhadap kapal berbendera Turki yang mengangkut minyak Ukraina di Laut Hitam. | Sovcomflot 

Rusia melancarkan serangan drone terhadap kapal kargo berbendera Turki yang mengangkut minyak bunga matahari asal Ukraina di Laut Hitam pada Sabtu (13/12). Kapal bernama VIVA itu diserang saat berlayar menuju Mesir melalui koridor gandum, di zona ekonomi eksklusif Ukraina, di luar jangkauan sistem pertahanan udara Ukraina. Pemerintah Ukraina menyebut insiden ini sebagai serangan terhadap pelayaran sipil dan rantai pasok pangan global.

Angkatan Laut Ukraina melaporkan, kapal VIVA membawa 11 awak berkewarganegaraan Turki. Tidak ada korban luka dalam insiden tersebut dan kapal tetap melanjutkan pelayaran ke pelabuhan tujuan di Mesir. Serangan terjadi di tengah meningkatnya intensitas serangan Rusia terhadap infrastruktur pelabuhan Ukraina di kawasan Odesa.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam serangan itu dan menyebutnya sebagai tantangan langsung terhadap komunitas internasional. Dalam pidato malamnya, Zelenskyy menegaskan bahwa kapal tersebut tidak terkait aktivitas militer dan tengah menjalankan misi pengiriman komoditas pangan.

Serangan terhadap VIVA terjadi hanya beberapa jam setelah Rusia menggempur sejumlah pelabuhan Ukraina pada 12 Desember. Dalam rangkaian serangan tersebut, tiga kapal milik perusahaan Turki dilaporkan rusak. Sebuah feri yang mengangkut produk segar terbakar di pelabuhan Chornomorsk, sementara seorang pekerja pelabuhan terluka di Odesa, menurut laporan otoritas setempat dan media internasional.

Waktu kejadian dinilai sensitif karena berdekatan dengan upaya diplomatik Ankara. Beberapa jam sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Turkmenistan dan mendorong gencatan senjata terbatas yang mencakup pelabuhan dan fasilitas energi. 

Erdogan menekankan pentingnya menjaga Laut Hitam agar tidak berubah menjadi zona konfrontasi dan memastikan keselamatan navigasi bagi semua pihak.

Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan keprihatinan atas insiden tersebut dan menyerukan kesepakatan untuk menghentikan serangan terhadap pengiriman sipil serta infrastruktur pelabuhan. 

Ankara menilai langkah itu diperlukan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan melindungi jalur perdagangan internasional di kawasan Laut Hitam.

Ukraina selama ini menjadi salah satu pemasok utama pangan dunia. Pejabat Ukraina menyebut negara itu menyumbang sekitar 36 persen ekspor minyak bunga matahari global, lebih dari 13 persen ekspor jagung, dan lebih dari 7 persen ekspor gandum dunia pada musim ini. 

Sejak membuka kembali koridor maritim pasca runtuhnya Black Sea Grain Initiative pada Juli 2023, lebih dari 6.000 kapal disebut telah mengangkut sekitar 90 juta ton kargo ke 55 negara.

Angkatan Laut Ukraina menyatakan serangan terhadap kapal sipil tersebut melanggar hukum maritim internasional dan prinsip kebebasan navigasi sebagaimana diatur dalam San Remo Manual. Rusia hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan serangan terhadap kapal berbendera Turki tersebut.