Israel menyetujui permintaan AS untuk menanggung biaya pembersihan 68 juta ton puing perang di Gaza sebagai prasyarat rekonstruksi fase kedua. | UNDP PAPP

Israel menyetujui permintaan Amerika Serikat untuk menanggung biaya penghilangan puing-puing perang dalam jumlah besar di Jalur Gaza, di tengah upaya Washington mendorong transisi ke fase kedua rencana gencatan senjata. 

Kesepakatan sementara itu dilaporkan muncul setelah tekanan diplomatik AS dan akan diawali dengan proyek percontohan di Rafah, Gaza selatan, menurut media Israel.

Permintaan tersebut mencakup pembersihan sekitar 68 juta ton puing akumulasi lebih dari dua tahun konflik yang diperkirakan menelan biaya ratusan juta hingga lebih dari US$1 miliar dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. 

Pemerintah AS menilai pembersihan puing sebagai prasyarat utama untuk memulai rekonstruksi pada fase kedua gencatan senjata.


Sumber: UNDP PAPP

Langkah awal akan dilakukan di satu lingkungan di Rafah. Surat kabar Yedioth Ahronoth melaporkan, biaya fase percontohan saja diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta shekel. 

AS mendorong dimulainya rekonstruksi di wilayah tersebut karena dinilai memiliki kehadiran Hamas yang lebih terbatas dan dapat dijadikan model pembangunan kembali skala lebih luas.

Permintaan Washington muncul setelah negara-negara Arab dan donor internasional enggan mendanai pembersihan puing di Gaza. Karena itu, AS meminta Israel mengambil tanggung jawab finansial agar proses rekonstruksi tidak tersendat. 

Media Israel menyebut, Washington mengharapkan Israel pada akhirnya membersihkan puing di seluruh wilayah Gaza, sebuah pekerjaan yang diperkirakan berlangsung bertahun-tahun.

Upaya ini berjalan beriringan dengan pembahasan fase kedua rencana perdamaian Gaza yang digagas Presiden AS Donald Trump. Namun demikian, transisi ke fase tersebut mengalami penundaan. Pada 10 Desember, Trump menyatakan pengumuman anggota Board of Peace untuk Gaza ditunda hingga awal 2026, meski sebelumnya ditargetkan sebelum akhir tahun.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, perencanaan fase kedua masih berlangsung di balik layar. 

“Ada banyak perencanaan diam-diam yang sedang berlangsung untuk fase kedua kesepakatan perdamaian, dan pengumuman akan disampaikan pada waktu yang tepat,” ujarnya kepada wartawan, 11 Desember.

Fase kedua mencakup penempatan International Stabilization Force untuk menjaga keamanan dan mengawasi pelucutan senjata Hamas, pembentukan pemerintahan Palestina teknokratis, serta dimulainya rekonstruksi. 

US Central Command dijadwalkan menggelar konferensi di Doha pada 16 Desember dengan partisipasi lebih dari 25 negara untuk membahas pembentukan pasukan tersebut, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Di sisi lain, Israel masih menetapkan syarat sebelum melangkah penuh ke fase kedua. Pemerintah Israel menuntut pemulangan jenazah Sersan Staf Ran Gvili, sandera Israel terakhir yang masih berada di Gaza. Pejabat Israel menyatakan telah memberikan informasi kepada mediator untuk membantu menemukan lokasi jenazah tersebut.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump pada 29 Desember di Mar-a-Lago untuk membahas kemajuan rencana perdamaian. 

Netanyahu sebelumnya menyampaikan keraguan terkait efektivitas pasukan multinasional dalam melucuti senjata Hamas, meski tetap menyatakan dukungan terhadap upaya internasional tersebut.

Sementara proses politik berlangsung, kekerasan di Gaza belum sepenuhnya berhenti. Pejabat kesehatan setempat melaporkan ratusan warga Palestina tewas dan terluka sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, dengan ratusan jenazah tambahan ditemukan dari bawah reruntuhan.