![]() |
| Vladimir Putin. | Kremlin.ru/Wikimedia Commons |
Presiden Rusia Vladimir Putin kembali mengeluarkan ultimatum kepada negara-negara Eropa anggota NATO pada Selasa (2/12) di Moskwa. Dalam pernyataan yang dikutip Reuters, Putin menegaskan Rusia akan memenangkan perang jika negara-negara Eropa nekat memulai konfrontasi langsung terkait dukungan mereka terhadap Ukraina. Ia menyebut ultimatum itu sebagai respons atas keterlibatan militer Barat yang semakin dalam di medan perang.
Putin menjelaskan Rusia tidak ingin perang dengan Eropa, namun memperingatkan Moskwa tidak akan tinggal diam apabila negara-negara NATO mengambil langkah yang dianggap mengancam keamanan nasional Rusia.
Pernyataan ini disampaikan setelah Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto mengingatkan bahwa Eropa kini berada di jalur menuju konflik terbuka dengan Moskow.
Pernyataan keras Putin muncul di tengah perang Rusia–Ukraina yang hampir memasuki tahun keempat. Ia menyebut operasi militer di Ukraina bukan perang sesungguhnya, melainkan “pembedahan”, kendati pertempuran skala besar terus berlangsung dan Rusia belum mencapai kontrol penuh di seluruh wilayah Ukraina karena dukungan persenjataan dari negara-negara NATO.
Putin juga mengkritik negara-negara Eropa yang menurutnya semakin agresif dalam memberikan bantuan militer, termasuk amunisi dan sistem pertahanan udara. Ia menilai keterlibatan tersebut telah memperpanjang konflik dan mengurangi peluang negosiasi.
Di sisi lain, Kremlin pada hari yang sama menerima dua utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, untuk membahas kemungkinan gencatan senjata. Pertemuan berlangsung sekitar empat jam dan menjadi bagian dari upaya diplomasi baru Washington terkait perang Ukraina.
“Jika Eropa tiba-tiba ingin perang dengan kami dan memulainya, perang itu akan berakhir sangat cepat bagi mereka. Kami bahkan tidak akan punya siapa pun untuk diajak bernegosiasi,” ujar Putin seperti dikutip Reuters.
Sejauh ini, NATO belum mengeluarkan pernyataan resmi khusus menanggapi ultimatum terbaru tersebut. Namun, diplomat senior NATO kepada BBC sebelumnya menyatakan militer Rusia tidak memiliki kapasitas untuk menyerang negara-negara Uni Eropa dalam waktu dekat, menilai ancaman Kremlin sebagai “tidak realistis”.
Hungaria menjadi satu-satunya negara Eropa yang secara terbuka mengomentari peringatan baru Putin, dengan Szijjarto menyebut retorika saling mengancam antara Barat dan Rusia justru membawa kawasan semakin dekat pada “situasi yang tak diinginkan”.
Perang masih berlangsung intens di beberapa front timur. Ukraina menyebut Rusia berupaya memperluas kontrol di wilayah Donetsk dan Zaporizhia, sementara Moskow mengklaim kemajuan militer di daerah strategis, termasuk Pokrovsk.
Pertemuan Rusia–AS dan retorika terbaru Putin dinilai menjadi bagian dari dinamika diplomatik terbaru, dengan negosiasi perdamaian masih terbuka tetapi terhambat posisi yang saling bertolak belakang antara Moskwa, Kyiv, dan negara-negara NATO.

0Komentar