Bentrokan kapal penjaga pantai di sekitar Senkaku memicu eskalasi baru hubungan Tiongkok–Jepang. | REUTERS

Kapal penjaga pantai Tiongkok dan Jepang kembali bersitegang di perairan dekat Kepulauan Senkaku pada 2 Desember, memicu insiden terbaru dalam perselisihan yang terus meningkat antara kedua negara. 

Otoritas di Beijing dan Tokyo saling menuduh adanya pelanggaran wilayah, sementara ketegangan meroket setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bulan lalu yang menyebut Jepang dapat mengambil langkah militer jika Tiongkok menyerang Taiwan.

Pernyataan Takaichi pada 7 November di parlemen menjadi titik awal eskalasi. Ia menyebut potensi serangan Tiongkok ke Taiwan dapat dikategorikan sebagai “krisis eksistensial” bagi Jepang berdasarkan undang-undang keamanan negara itu. Beijing merespons keras. 

Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan Jepang telah “melewati garis merah” dan mengumumkan Tiga Tidak Boleh, termasuk larangan campur tangan eksternal dalam isu Taiwan.

Dalam periode yang sama, Beijing menggalang dukungan internasional dengan menyinggung kembali konteks sejarah Perang Dunia II. Wang Yi meminta Inggris dan Prancis untuk “menjaga hasil kemenangan Perang Dunia II” dalam pertemuan terpisah pada akhir November. 

Di sisi lain, Presiden Xi Jinping dalam panggilan telepon kepada Presiden AS Donald Trump pada 24 November menegaskan bahwa Taiwan adalah bagian dari tatanan internasional pascaperang.

Situasi ikut memanas ketika Konsul Jenderal Tiongkok di Osaka, Xue Jian, menulis pernyataan bernada keras di media sosial, memicu protes resmi Jepang yang kemudian memanggil duta besar Tiongkok.

Respons Beijing tidak berhenti pada ranah diplomatik. Tiongkok memberlakukan kembali larangan total impor makanan laut Jepang pada 19 November, beberapa hari setelah mencabut sebagian pembatasan tersebut. Langkah ini dilaporkan sejumlah media internasional seperti Al Jazeera dan ABC News.

Selain itu, lebih dari 1.900 penerbangan antara kedua negara dibatalkan untuk bulan Desember, setara sekitar 40 persen dari jadwal yang ada. Media seperti South China Morning Post dan Firstpost menyebut keputusan ini menjadi pukulan besar bagi arus perjalanan menjelang akhir tahun. 

Tiongkok juga menerbitkan peringatan perjalanan yang mendorong warganya untuk tidak mengunjungi Jepang, memengaruhi sektor pariwisata yang hingga Oktober menerima 8,2 juta pelancong dari Tiongkok.

Ketegangan politik merembet ke acara publik. Pada 29 November, penampilan penyanyi Jepang Maki Otsuki di sebuah festival anime di Shanghai dihentikan tiba-tiba ketika lampu dan suara dimatikan di tengah pertunjukan. 

Sementara itu, konser Ayumi Hamasaki pada akhir pekan yang sama dibatalkan oleh penyelenggara dengan alasan force majeure. Insiden tersebut dilaporkan oleh media seperti BBC, dan The Japan Times.

Taiwan ikut menyoroti eskalasi ini. Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung pada 1 Desember memperingatkan bahwa ketegangan Tiongkok–Jepang bisa bertahan hingga setahun. 

Presiden Taiwan Lai Ching-te mendorong warga Tiongkok untuk tetap mengunjungi Jepang dan membeli produk Jepang sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat Jepang.

Sejauh ini, baik Tokyo maupun Beijing belum memberikan indikasi adanya mekanisme deeskalasi jangka pendek. Insiden di perairan Senkaku pada 2 Desember menambah daftar konfrontasi yang menyoroti rentannya hubungan kedua negara di tengah isu Taiwan yang terus menjadi titik sensitif di kawasan.