Dua personel militer terlihat sedang memeriksa atau menangani senapan mesin yang terpasang di atas kendaraan militer. | Israel Defense Forces Spokesperson's Unit via Wikimedia Commons

Angkatan Pertahanan Israel (IDF) menghadapi krisis serius dalam mempertahankan personel karier di tengah tuntutan perang yang berkepanjangan. Data internal yang dipaparkan kepada Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset pada Selasa (2/12/2025) menunjukkan penurunan tajam minat perwira dan bintara untuk melanjutkan dinas, dengan kekurangan personel kini mencapai ribuan posisi kunci.

IDF tercatat kekurangan sekitar 1.300 perwira pada pangkat letnan dan kapten, serta 300 mayor. Kondisi ini berlangsung di tengah penurunan minat bertahan yang konsisten sejak 2018. 

Survei internal militer menunjukkan hanya 63% perwira yang ingin tetap berdinas, turun dari 83%. Pada bintara, angkanya merosot lebih dalam, dari 58 persen menjadi 37 persen. Penurunan tersebut terjadi di tengah tekanan perang, beban psikologis tinggi, serta gaji sektor sipil yang jauh lebih kompetitif.

Krisis semakin kompleks karena meningkatnya burnout, keluhan atas kondisi layanan, delegitimasi politik, dan ketidakpuasan terkait penunjukan pimpinan baru. 

Laporan media Israel, termasuk Channel 12 dan Times of Israel, menyebutkan ratusan perwira pangkat mayor telah mengundurkan diri sejak pertengahan 2024, sementara lebih dari 600 personel karier tengah mengajukan pensiun dini.

Brigadir Jenderal Amir Vadmani, Kepala Staf Direktorat Personel IDF, menjelaskan adanya kesenjangan struktural yang memaksa militer mempromosikan perwira junior lebih cepat dari prosedur normal. 

“Ada kesenjangan. Untuk menutup beberapa kesenjangan, kami mempromosikan kaum muda dengan pengalaman lebih sedikit untuk mengisi pangkat,” kata Vadmani kepada komite parlemen. Ia juga menegaskan bahwa tantangan terbesar ke depan adalah mengisi pangkat letnan kolonel yang mulai sulit dipenuhi.

Di sisi lain, IDF membutuhkan tambahan mendesak sekitar 12.000 prajurit baru, separuhnya untuk unit tempur. Namun upaya rekrutmen mengalami hambatan signifikan, terutama di komunitas ultra-Ortodoks (Haredi). Sekitar 80.000 pria Haredi usia 18–24 tahun tercatat memenuhi syarat tetapi belum mendaftar. 

Gesekan politik meningkat setelah pemerintah mengajukan RUU yang memberi pengecualian wajib militer bagi Haredi dan menghapus sanksi bagi mereka yang tidak menjalani wajib militer hingga usia 26 tahun.

Penegakan hukum terhadap penghindar wajib militer dari kalangan Haredi juga melonjak. Sepanjang 2025, IDF mencatat 1.232 penangkapan, jauh di atas target tahunan sekitar 500–600 orang. 

Meski begitu, rekrutmen Haredi sempat naik 60 persen pada 2024 seiring program khusus dan pembentukan unit yang memungkinkan mereka mempertahankan gaya hidup keagamaan, termasuk unit teknisi Israel Air Force.

Sementara itu, beban pasukan cadangan akan dipangkas mulai 2026. Dalam kebijakan baru, prajurit cadangan dipanggil maksimal 60 hari sepanjang tahun, turun drastis dari rata-rata 136–168 hari pada tahun pertama perang. 

Pengurangan ini dimaksudkan menurunkan tekanan bagi pasukan cadangan sekaligus meningkatkan porsi pelatihan untuk menjaga kesiapan.