Putin menegaskan Rusia menolak mata uang tunggal BRICS dan tidak berniat kembali ke G8, seraya menyoroti relevansi forum non-Barat dalam kunjungan ke India. | Kremlin.ru/Wikimedia Commons

Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan penolakannya terhadap rencana pembentukan mata uang tunggal BRICS serta kemungkinan Rusia kembali ke G8. Pernyataan itu disampaikan pada 4 Desember dalam wawancara dengan India Today dan sejumlah media India, bertepatan dengan kunjungan kenegaraannya ke New Delhi untuk KTT Tahunan India–Rusia ke-23. 

Putin menyebut tidak ada urgensi untuk mendorong integrasi moneter BRICS dan menilai format G7 sudah kehilangan relevansi dalam perekonomian global.

Putin menjelaskan bahwa pengalaman Uni Eropa dengan euro menjadi peringatan agar kelompok ekonomi besar seperti BRICS tidak terburu-buru mengadopsi mata uang tunggal. 

Ia mencontohkan bagaimana zona euro menyerap ekonomi yang belum siap sehingga menimbulkan ketidakseimbangan sosial dan keuangan. Karena itu, menurut dia, BRICS perlu menempuh pendekatan bertahap dan memprioritaskan stabilitas perdagangan antaranggota.

Dalam kesempatan yang sama, Putin menjawab tegas bahwa Rusia tidak tertarik kembali ke G8. Ia menggarisbawahi bahwa posisi kelompok yang dipimpin Barat tersebut terus menyusut dalam ekonomi global, merujuk pada data Dana Moneter Internasional yang menunjukkan porsi ekonomi riil BRICS lebih besar dibanding G7 dalam ukuran purchasing power parity. Menurut Putin, forum seperti BRICS dan G20 kini lebih relevan untuk kerja sama ekonomi internasional.

Pernyataan tersebut muncul dua hari setelah Putin bertemu utusan Presiden AS Donald Trump, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Moskow pada 2 Desember. Pertemuan selama sekitar lima jam itu membahas kemungkinan kerangka perdamaian untuk perang Ukraina. Putin menyebutkan bahwa topik soal G8 hanya tersinggung tanpa ada usulan resmi Amerika Serikat agar Rusia kembali ke format tersebut.

Dalam rangkaian kegiatan di New Delhi, Putin juga menyoroti masalah perdagangan rupee–ruble yang masih tersendat akibat ketidakseimbangan nilai ekspor dan impor. 

Berdasarkan data tahun fiskal 2025, nilai perdagangan bilateral India–Rusia mencapai US$68,7 miliar, tetapi ekspor India baru sekitar US$4,9 miliar sementara impor dari Rusia menembus US$63,8 miliar, didominasi minyak. Ketimpangan itu membuat Rusia mengakumulasi rupee lebih banyak daripada yang dapat dibelanjakan untuk produk India.

Putin mengatakan pihaknya tengah mencari solusi operasional dengan mendorong lebih banyak importir Rusia masuk ke pasar India. Ia menyebut akan mengadakan pertemuan khusus dengan pelaku usaha Rusia untuk mengidentifikasi sektor atau produk India yang berpotensi diperluas pembeliannya.

Kunjungan Putin disambut langsung oleh Perdana Menteri India Narendra Modi yang menjemputnya di bandara pada Kamis malam, langkah yang disebut sejumlah media sebagai di luar protokol umum. 

Kedua pemimpin kemudian menghadiri jamuan makan malam pribadi sebelum pembicaraan resmi digelar pada Jumat. Agenda pertemuan meliputi kerja sama pertahanan, proyek energi nuklir sipil, dan peningkatan mobilitas tenaga kerja.