![]() |
| Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin bertemu di Istana Konstantinovsky, St. Petersburg, pada Kamis (19/06/2025). | Sekretariat Presiden |
Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan kerja sama strategis kepada Presiden Prabowo Subianto dalam bidang energi nuklir, pasokan gandum, dan investasi industri saat pertemuan bilateral di Kremlin, Moskwa, Rabu (10/12/2025).
Pertemuan yang berlangsung di tengah peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Rusia itu dilakukan setelah nilai perdagangan kedua negara tercatat naik 17 persen pada Januari–September 2025.
Tawaran disampaikan seiring keinginan Rusia memperluas kemitraan ekonomi dengan negara-negara Asia, sementara Indonesia mencari pemasok pangan serta mitra teknologi energi jangka panjang.
Pertemuan tersebut menjadi lanjutan komunikasi tingkat tinggi kedua negara setelah sejumlah isu strategis mulai dari pangan, pertahanan, hingga energi mendapat perhatian dalam beberapa bulan terakhir.
Indonesia, yang menempatkan nuclear energy sebagai bagian dari energy mix baru melalui Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025, tengah menyiapkan rencana pembangunan PLTN pertama berkapasitas 500 MW yang ditargetkan beroperasi pada 2032.
Di sisi lain, ekspor gandum Rusia ke Indonesia sebelumnya sempat terhenti sejak Januari dan baru kembali dikirim pada Oktober 2025 dengan volume 52.000 metrik ton.
Putin menyatakan Rusia siap mengirim tenaga ahli untuk mendukung program nuklir Indonesia. Ia mengatakan prospek kerja sama energi antara kedua negara masih terbuka luas.
“Kita memiliki prospek yang sangat menjanjikan di sektor energi, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Saya tahu negara Anda memiliki rencana serupa, dan kami selalu siap membantu jika Anda mempertimbangkan melibatkan para spesialis kami,” ujar Putin, mengutip keterangan kremlin.
Di sektor pangan, Putin menyinggung penurunan pasokan gandum ke Indonesia dan menyatakan kesiapan untuk meningkatkan pengiriman. Ia menyebut isu tersebut relevan dibahas kembali mengingat Indonesia menjadi salah satu pasar besar Rusia di Asia Tenggara.
“Pasokan gandum ke pasar Anda memang sedikit menurun, tapi saya kira hal ini juga menjadi topik yang dapat kita bahas hari ini,” tutur Putin
Selain energi dan pangan, Kremlin juga menawarkan perluasan kerja sama teknis pertahanan. Putin menegaskan Indonesia merupakan mitra tradisional Rusia dalam pengembangan alutsista dan pelatihan militer. Ia menyebut banyak personel Indonesia yang telah mengikuti pendidikan di universitas dan akademi militer Rusia.
“Para spesialis Indonesia secara rutin menempuh pendidikan di universitas kami, termasuk akademi militer, dan kami siap memperluas kerja sama ini,” kata Putin dalam pertemuan tersebut.
Di luar agenda pemerintahan, delegasi pengusaha Indonesia yang mendampingi kunjungan juga melakukan perundingan bisnis dengan sejumlah perusahaan Rusia.
Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia, Akhmad Ma'ruf Maulana, menyampaikan bahwa salah satu proyek yang tengah dinegosiasikan adalah rencana joint venture pengembangan transportasi laut berbasis kapal listrik. Ia menjelaskan bahwa pembicaraan tersebut dilakukan untuk memperluas investasi industri maritim ke pasar Rusia.
“Transportasi laut kapal listrik, saya berusaha untuk joint venture, sekarang lagi nego di Moskow,” ujarnya.
Prabowo merespons tawaran-tawaran tersebut dengan mengundang Putin untuk melakukan kunjungan balasan ke Indonesia pada 2026 atau 2027. Ajakan itu disampaikan di tengah upaya Indonesia memperkuat hubungan dengan Rusia, termasuk melalui keanggotaan penuh Indonesia dalam BRICS serta percepatan penandatanganan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU) yang ditargetkan rampung pada akhir 2025.
Dalam kesempatan yang sama, Putin juga menyampaikan belasungkawa atas bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra.
Hingga pertemuan ditutup, kedua pemimpin negara belum mengumumkan kesepakatan baru secara resmi, namun pejabat dari kedua pihak menyebut pembahasan akan dilanjutkan oleh tim teknis.
Pemerintah Indonesia menjelaskan bahwa kerja sama energi, pangan, dan pertahanan dengan Rusia masih berada dalam tahap penjajakan, sementara isu perdagangan dengan EAEU akan dibahas dalam putaran negosiasi berikutnya.

0Komentar