Target lifting minyak Indonesia pada 2026 naik menjadi 610.000 bph. | Wikipedia/CC BY—SA 4.0

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan target produksi siap jual (lifting) minyak Indonesia sebesar 610.000 barel per hari (bph) pada 2026. Target itu naik tipis dari proyeksi 2025 yang berada di level 605.000 bph. Pengumuman disampaikan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung dalam Rapat Koordinasi Dukungan Bisnis SKK Migas 2025 yang berlangsung di Sentul, Kabupaten Bogor, Rabu (3/12/2025).

Kenaikan target tersebut menjadi bagian dari roadmap pemerintah menuju produksi 900.000 hingga 1 juta bph pada 2029. Untuk mencapai ambisi itu, produksi nasional perlu bertambah sekitar 100.000 bph setiap tahun. 

Yuliot menyebutkan realisasi lifting minyak per November 2025 telah berada di kisaran 610.000 bph, naik signifikan dibanding capaian 2024 yang tercatat sekitar 580.000 bph.

ESDM menyiapkan tiga strategi utama untuk memenuhi target 2026. Pertama, penyempurnaan regulasi perizinan bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), termasuk penyelesaian hambatan pengadaan lahan dan penyesuaian aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). 

Kedua, penyediaan infrastruktur dasar untuk mendukung kegiatan eksplorasi dan produksi. Ketiga, penguatan ekosistem peralatan dalam negeri, mengingat tingkat TKDN di sektor hulu migas saat ini baru sekitar 40 persen.

Yuliot menegaskan bahwa pencapaian target tahunan tidak dapat ditangani satu pihak saja. “Tidak bisa hanya dikerjakan sendiri oleh SKK Migas, tidak bisa dilepaskan dari peran Kementerian ESDM. Ini merupakan kolaborasi seluruh stakeholder,” ujarnya dalam forum tersebut.

Dorongan Investasi 2026

Dari sisi investasi, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan realisasi penanaman modal migas mencapai US$16 miliar atau sekitar Rp266 triliun pada 2026. 

Investasi diharapkan datang dari pelaku lama maupun pemain baru. Menurut Djoko, minat investor asing juga mulai terlihat, antara lain dari BP, Shell, Equinor, dan EnQuest setelah kunjungan penjajakan pemerintah ke London.

Djoko menjelaskan bahwa tambahan investasi diperlukan untuk mempercepat pengeboran, meningkatkan kapasitas fasilitas produksi, serta mendorong temuan cadangan baru yang dapat menopang target lifting jangka menengah pemerintah.

Konteks Industri Hulu Migas

Sejauh ini, kinerja sektor hulu masih menghadapi tantangan berupa penurunan alamiah lapangan tua, proses perizinan yang panjang, dan terbatasnya kapasitas peralatan domestik. Karena itu, pemerintah menilai perbaikan regulasi dan perluasan investasi menjadi kunci untuk menjaga tren kenaikan produksi yang mulai terlihat sejak 2025.

Meski begitu, pemerintah tetap menekankan pentingnya penyerapan produk lokal melalui kebijakan TKDN untuk memperkuat rantai pasok industri migas nasional. 

Kebijakan tersebut disebut Yuliot sebagai upaya jangka panjang agar ketahanan energi dapat terjaga di tengah fluktuasi produksi dan kebutuhan dalam negeri.